Yogyakarta – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya melarikan diri dari lokasi diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) saat forum tersebut berakhir ricuh pada Senin (15/6) malam. Ia menyatakan bahwa keputusannya meninggalkan panggung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM semata-mata merupakan langkah pengamanan oleh pihak keamanan karena situasi yang tidak lagi kondusif.
Sudaryono hadir dalam acara bertajuk Kopdar dengan Mas Dar tersebut bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Menurutnya, agenda tersebut telah direncanakan sejak lama dengan izin resmi dari pihak kampus untuk membangun ruang dialog terbuka antara pemerintah dan mahasiswa.
Dalam keterangannya, Sudaryono menegaskan bahwa sejak awal forum, para pejabat telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik maupun pertanyaan secara demokratis. Namun, situasi mulai tidak terkendali setelah forum berjalan sekitar 30 hingga 40 menit. Sebagian peserta mulai melakukan aksi protes yang berujung pada pelemparan botol air mineral dan tindakan fisik.
Sudaryono mengaku sempat mengalami pemukulan di tengah kericuhan tersebut. Kendati demikian, ia menepis narasi yang menyebutkan ia dan rombongan kabur dari tanggung jawab. Ia mengklaim dirinya sempat menemui massa di luar area gedung dan bahkan duduk bersila di aspal saat mobil rombongan dicegat oleh sekelompok orang untuk memastikan dialog tetap berjalan meski situasi memanas.
Kericuhan dipicu saat Budiman Sudjatmiko tengah memberikan pemaparan mengenai isu intimidasi yang dialami mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Saat itu, sejumlah mahasiswa maju ke arah panggung sambil membentangkan spanduk bertuliskan UGM Menolak Pengkhianat Reformasi dan UGM Menolak Penjilat Rezim. Aksi ini diikuti dengan pelemparan gelas air mineral ke arah panggung, yang membuat suasana diskusi yang semula berjalan kondusif sejak pukul 19.00 WIB berubah menjadi kacau.
Pihak keamanan akhirnya menyarankan para pejabat untuk segera meninggalkan lokasi demi menghindari eskalasi konflik yang lebih luas. Sudaryono menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang hadir dengan niat tulus untuk berdiskusi namun terpaksa kehilangan kesempatan tersebut akibat gangguan dari sekelompok peserta lain.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kebebasan berpendapat, Sudaryono menyatakan kesiapannya untuk kembali memenuhi undangan diskusi baik di Yogyakarta maupun di Jakarta. Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui ruang dialog yang sehat, bukan dengan tindakan fisik. Pihaknya berharap ke depan komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa dapat berjalan lebih konstruktif tanpa adanya gangguan yang mencederai proses demokrasi di lingkungan kampus.





















