Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup resmi menganugerahkan penghargaan Kalpataru Adya 2026 kategori Pembina Lingkungan kepada Miswanto, seorang pegiat lingkungan asal Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Penghargaan bergengsi ini diberikan atas dedikasi dan inovasi Miswanto dalam menggerakkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayahnya sejak tahun 2021.
Penghargaan tersebut menjadi puncak dari upaya panjang Miswanto yang telah mencoba mendaftarkan diri dalam ajang Kalpataru sejak 2022. Melalui kerja kerasnya bersama tim Penyuluh Sosial Masyarakat (Pensosmas), ia berhasil membuktikan bahwa inisiatif lokal mampu memberikan dampak nyata terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.
Program utama yang dikembangkan oleh Miswanto adalah Gerakan Edukasi bersama Masyarakat atau Gebermas. Melalui program ini, ia mendirikan bank sampah bernama Rumah Pilah di Kecamatan Bintan Utara. Hingga saat ini, fasilitas tersebut telah berhasil mengelola sekitar 140 ton sampah anorganik. Keberhasilan ini didukung oleh partisipasi aktif dari 800 kepala keluarga yang tersebar di wilayah Kecamatan Bintan Utara, Seri Kuala Lobam, dan Teluk Sebong.
Sistem pengelolaan yang diterapkan tidak hanya memilah sampah, namun juga memberikan nilai tambah ekonomi. Sampah yang memiliki nilai jual diproses menjadi barang bernilai ekonomis, sementara sisanya disalurkan ke industri daur ulang. Pendapatan yang diperoleh dari operasional bank sampah tersebut dikelola secara transparan untuk membiayai operasional di tingkat desa dan kelurahan, serta dialokasikan untuk berbagai program tabungan masyarakat, mulai dari tabungan sekolah hingga tabungan emas.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, Miswanto memperkenalkan inovasi berupa program Donasi Sampah Indonesia untuk Menjaga Alam Semesta yang dimulai pada 2024. Inisiatif ini menyasar warga yang belum bersedia menjadi nasabah bank sampah dengan metode sedekah sampah. Dalam waktu singkat, program ini berhasil mengumpulkan dua ton sampah dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,7 juta yang kemudian disalurkan untuk membantu pondok pesantren dan rumah yatim piatu.
Dalam operasionalnya, Miswanto juga menginisiasi layanan Bintan Ojek Sampah (BOS). Layanan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dengan menyediakan penjemputan sampah secara gratis langsung dari rumah warga maupun fasilitas umum seperti tempat ibadah.
Miswanto, yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas keamanan selama 23 tahun, menyatakan bahwa keterlibatannya dalam pelestarian lingkungan adalah panggilan jiwa. Sebelum fokus menjadi pegiat lingkungan, ia sempat aktif sebagai pimpinan Pemuda Pancasila di Kecamatan Bintan Utara. Baginya, penghargaan Kalpataru bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan pemicu untuk terus menciptakan inovasi yang lebih berdampak.
Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah program lingkungan tidak sekadar diukur dari piala atau pengakuan semata, melainkan dari keberlanjutan manfaat yang dirasakan masyarakat. Ke depannya, Miswanto berkomitmen untuk terus mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah di Bintan agar semakin efisien dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
























