Jakarta – Harga emas dunia mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat (26/6/2026) setelah sempat tertekan hebat sepanjang pekan. Kenaikan harga ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta melunaknya ekspektasi pasar terhadap kebijakan agresif kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Meskipun mengalami pemulihan pada akhir pekan, logam mulia ini masih mencatatkan penurunan mingguan selama empat kali berturut-turut.
Data pasar menunjukkan harga emas spot naik 0,51 persen ke level 4.046,70 dolar AS per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turut menguat 0,35 persen menjadi 4.061,40 dolar AS per ons troi. Kendati demikian, performa positif di akhir pekan belum mampu menutupi pelemahan akumulatif sebesar 2,6 persen yang terjadi dalam periode satu pekan terakhir.
Tekanan terhadap emas sempat mencapai puncaknya pada awal pekan ini, di mana harga sempat menyentuh level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Kondisi tersebut didorong oleh sentimen kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat yang membuat investor lebih memilih aset dengan imbal hasil tetap seperti obligasi.
Pelemahan dolar AS yang menjadi katalis kenaikan harga emas kali ini terjadi setelah dirilisnya data indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Data tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 4,1 persen secara tahunan untuk periode Mei, yang dinilai sejalan dengan proyeksi pasar. Respon pasar terlihat dari penurunan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang. Berdasarkan data FedWatch Tool dari CME Group, peluang kenaikan suku bunga turun ke kisaran 60 persen, dari yang sebelumnya mencapai 64 persen.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebutkan bahwa emas tengah berupaya melakukan pemulihan teknikal setelah aksi jual masif di awal pekan. Namun, ia memperingatkan bahwa tren jangka panjang masih dibayangi risiko suku bunga tinggi. Ketika suku bunga berada di level tinggi, daya tarik emas sebagai aset tidak memberikan imbal hasil cenderung menurun di mata investor institusi.
TD Securities menambahkan bahwa potensi penguatan emas ke depan masih cukup terbatas. Lembaga tersebut menyoroti korelasi negatif antara emas dengan dolar AS serta harga minyak mentah. Jika pasar energi tetap menunjukkan kekuatan dalam beberapa bulan mendatang, maka harga emas diprediksi akan kembali tertekan.
Di sisi lain, dinamika permintaan fisik global memberikan gambaran yang beragam. Pasar India mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, di mana harga emas kembali diperdagangkan dengan premi untuk pertama kalinya dalam satu setengah bulan terakhir. Koreksi harga yang terjadi belakangan ini berhasil memicu minat beli masyarakat di India. Sebaliknya, permintaan emas di China, yang merupakan konsumen terbesar dunia, masih terpantau lesu.
Sejalan dengan pergerakan emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan hasil positif. Harga perak naik 0,42 persen menjadi 58,11 dolar AS per ons troi. Platinum menguat 0,21 persen ke level 1.604,45 dolar AS per ons troi, sementara paladium mencatatkan kenaikan paling signifikan sebesar 1,25 persen menjadi 1.199,25 dolar AS per ons troi. Para investor kini menantikan arah kebijakan moneter lebih lanjut yang akan menentukan volatilitas harga logam mulia di pasar global pada kuartal mendatang.





















