Hadapi Potensi Bearish, Investor Bitcoin Diminta Tetap Tenang dan Waspada

persen

Jakarta – Pasar mata uang kripto diprediksi akan menghadapi fase tekanan jual atau tren bearish sepanjang kuartal III tahun ini. Analisis historis menunjukkan bahwa pergerakan aset digital utama, Bitcoin, cenderung tertahan dalam rentang harga yang terbatas atau sideways, menyerupai pola koreksi yang terjadi pada periode menjelang siklus halving sebelumnya.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa Bitcoin saat ini menunjukkan sinyal pelemahan setelah sempat menyentuh level US$ 58.000. Berdasarkan data historis Bitcoin Quarterly Returns dari tahun 2017 hingga 2025, pasar sering kali mengalami koreksi pada tahun ketiga setelah fase pemulihan. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan moneter global yang masih ketat.

Faktor utama yang menekan pasar kripto adalah sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang belum memberikan sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Tingginya angka inflasi di Amerika Serikat memaksa investor untuk lebih berhati-hati, yang tercermin pada penurunan aset berisiko lainnya, termasuk indeks saham S&P 500 dan harga emas.

Senada dengan hal tersebut, Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyoroti data inflasi PCE Amerika Serikat bulan Mei yang mencapai 4,1% secara tahunan (YoY). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak April 2023 dan menambah ketidakpastian bagi pasar kripto hingga akhir kuartal III. Meskipun koreksi saat ini dianggap telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga, risiko lonjakan inflasi lanjutan tetap terbuka lebar.

Meski demikian, para analis mengimbau investor untuk tidak bersikap panik berlebihan. Koreksi harga dipandang sebagai bagian wajar dari siklus pasar empat tahunan Bitcoin. Dibandingkan dengan altcoin yang memiliki volatilitas jauh lebih tinggi akibat risiko aksi jual investor awal, manipulasi pasar, hingga masalah fundamental proyek, Bitcoin dinilai masih menjadi instrumen yang relatif lebih aman bagi investor dalam menghadapi ketidakpastian makroekonomi.

Terkait strategi investasi di tengah kondisi pasar saat ini, teknik Dollar Cost Averaging (DCA) atau akumulasi aset secara bertahap dinilai sebagai langkah yang paling relevan. Strategi ini memungkinkan investor untuk memitigasi risiko volatilitas saat pasar belum menunjukkan tren pemulihan yang signifikan.

Secara teknikal, Bitcoin diproyeksikan memiliki potensi koreksi lebih lanjut menuju area support di kisaran US$ 50.000, yang secara historis menjadi titik pantulan kuat. Sebaliknya, level US$ 72.000 ditetapkan sebagai zona resistensi krusial. Level tersebut harus ditembus agar Bitcoin dapat kembali melanjutkan tren kenaikan jangka panjang. Ke depan, dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga The Fed, serta data sektor ketenagakerjaan akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga aset kripto di pasar global. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan indikator ekonomi tersebut sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi.

Rekomendasi