Jakarta – Kalangan pengusaha menaruh harapan besar pada paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang digelontorkan pemerintah untuk semester II 2026. Kebijakan ini dinilai krusial sebagai bantalan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sektor riil di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan bahwa langkah pemerintah ini sangat tepat waktu (timely) untuk mencegah perlambatan ekonomi setelah berakhirnya periode musiman di awal tahun.
“Konsumsi rumah tangga selama ini tetap menjadi backbone pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga menjaga demand menjadi sangat penting dalam situasi global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Shinta.
Menurut Shinta, insentif yang menyasar sektor transportasi, pariwisata, hingga bantuan pangan akan sangat membantu menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, Apindo juga menyambut baik keberlanjutan program magang dan vokasi, serta kebijakan bea masuk nol persen untuk bahan baku industri sebagai upaya menekan biaya produksi.
Meski demikian, Shinta mengingatkan adanya alarm bahaya di sektor riil. Ia menyoroti data PMI Manufaktur yang stagnan di level 50 serta penurunan optimisme pelaku usaha. “Dunia usaha berharap stimulus ke depan juga semakin memperkuat sisi produksi dan competitiveness sektor riil,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merinci alokasi dana Rp26,34 triliun tersebut. Anggaran itu terbagi atas bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun, program magang dan vokasi Rp6,26 triliun, serta insentif transportasi senilai Rp2,04 triliun.
“Total stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk di semester kedua ini nilainya sekitar Rp26,34 triliun,” jelas Airlangga.
Di sisi lain, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai efektivitas stimulus ini akan sangat bergantung pada distribusi dan ketepatan sasaran. Ia menyebut dampak kebijakan tersebut kemungkinan bersifat parsial.
“Efeknya ada, tetapi belum tentu cukup kuat untuk mengangkat konsumsi secara agregat jika skalanya terbatas atau distribusinya belum optimal,” ungkap Ronny.
Menurut Ronny, bantuan sosial cenderung lebih efektif karena langsung dibelanjakan oleh kelompok berpendapatan rendah. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan stimulus tetap dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan konsumen dan ekspektasi ekonomi masyarakat ke depan.



















