Jakarta – Industri perunggasan nasional diproyeksikan akan segera keluar dari fase tekanan harga akibat kelebihan pasokan atau oversupply. Analis Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, dalam risetnya pada 25 Juni 2026, memproyeksikan harga ayam hidup atau live bird akan menunjukkan tren pemulihan mulai Juli 2026 seiring dengan normalisasi tingkat permintaan pasar.
Optimisme ini didorong oleh kebijakan distribusi kuota impor Grand Parent Stock (GPS) yang kini lebih merata. Berdasarkan data terbaru, jumlah perusahaan yang memperoleh kuota impor GPS meningkat menjadi 29 perusahaan, dibandingkan sebelumnya yang hanya mencapai 23 perusahaan. Peningkatan jumlah penerima kuota ini sejalan dengan kenaikan target impor GPS nasional tahun ini yang dipatok di angka 800.000 ekor.
Meskipun kuota ditingkatkan, realisasi impor di lapangan diperkirakan akan tetap berada di bawah plafon yang ditetapkan. Kondisi tersebut dinilai mampu menekan risiko kelebihan pasokan yang sebelumnya sempat menjadi kekhawatiran utama pelaku pasar. Selain itu, implementasi skema impor Strategic Buffer Meat (SBM) melalui PT Berdikari yang telah berjalan selama dua bulan turut memberikan sentimen positif. Skema ini diprediksi memberikan tambahan margin keuntungan bagi perusahaan, dengan estimasi margin kotor berada di kisaran 5 persen.
Dampak dari efisiensi rantai pasok tersebut diperkirakan akan mulai terlihat nyata pada kinerja keuangan emiten unggas terintegrasi pada kuartal III 2026. Di sisi lain, proyek hilirisasi industri perunggasan yang digagas Danantara bersama Berdikari saat ini masih dalam tahap awal. Proyek strategis senilai Rp 20 triliun tersebut dirancang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis melalui pembangunan pabrik pakan di beberapa daerah, seperti Bone, Lampung, dan Gorontalo.
Kendati komitmen pendanaan telah tersedia dengan tenor pinjaman hingga lima tahun, Victor mencatat bahwa proyek tersebut masih menghadapi tantangan teknis, terutama terkait ketersediaan lahan di wilayah luar Pulau Jawa. Mengingat proyek ini masih dalam fase awal, kontribusinya terhadap kinerja industri secara keseluruhan belum akan terasa dalam jangka pendek.
Meski demikian, Danareksa Sekuritas tetap memberikan rekomendasi overweight untuk sektor perunggasan. Hal ini didasarkan pada valuasi sektor yang saat ini diperdagangkan pada level 3,8 kali price to earnings, atau 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Valuasi tersebut dinilai sudah mencerminkan kondisi harga live bird yang masih lemah saat ini, sehingga potensi kenaikan di masa mendatang dianggap cukup terbuka.
Dalam sektor ini, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi saham pilihan utama karena dinilai memiliki fundamental yang lebih solid dibandingkan emiten sejenis. Namun, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap risiko eksternal. Beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja industri ke depan meliputi keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis, volatilitas inflasi, serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang dapat berdampak pada biaya operasional perusahaan.




















