Jakarta – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia tengah melakukan diversifikasi usaha secara agresif untuk memperkuat fundamental pendapatan dan menjamin pertumbuhan kinerja jangka panjang. Strategi ekspansi ke lini bisnis baru ini menjadi tren terkini di kalangan perusahaan publik guna mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar utama.
Emiten ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian melalui rencananya merambah segmen perlengkapan rumah tangga dan perkakas dengan jenama Ace Hardware. MAPI menargetkan pembukaan gerai perdana di wilayah Jabodetabek pada akhir Juli atau awal Agustus 2026. Sebagai langkah awal, perusahaan membidik pengoperasian lima hingga tujuh gerai, sebelum melakukan evaluasi terhadap kelayakan finansial dan potensi profitabilitas jangka panjang dari lini tersebut.
Langkah ekspansi serupa juga diambil oleh sejumlah perusahaan lainnya di sektor berbeda. PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) memutuskan masuk ke industri yoghurt melalui investasi strategis senilai Rp 10,4 miliar pada PT Halal Artisan Yummies (HAY). Sementara itu, PT Akasha Wira International Tbk (ADES) kini tengah mempersiapkan produksi produk permen jeli atau gummy sebagai motor pertumbuhan baru.
Sektor jasa dan infrastruktur juga tidak ketinggalan dalam tren ini. PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSC) merambah bisnis desain kreatif dengan estimasi pengembalian investasi atau payback period selama satu tahun delapan bulan. PT Globe Kita Terang Tbk (GLOB) mulai melirik bisnis pengelolaan sampah di samping mempertahankan operasional ekosistem kopi yang sudah berjalan. Di sisi lain, PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) bersiap meluncurkan layanan kargo pada semester kedua tahun 2026.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai diversifikasi merupakan katalis positif selama terdapat sinergi dengan kompetensi inti perusahaan. Namun, ia mengingatkan bahwa kontribusi lini bisnis baru terhadap kinerja keuangan cenderung terbatas dalam jangka pendek karena tingginya beban investasi awal. Menurutnya, keberhasilan langkah ini sepenuhnya bergantung pada eksekusi manajemen dalam mencapai skala ekonomi.
Pandangan serupa disampaikan oleh Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama. Ia menekankan bahwa pasar akan merespons diversifikasi berdasarkan kemampuan eksekusi, kebutuhan belanja modal, dan kecepatan lini baru dalam memberikan kontribusi laba. Elandry menyoroti MAPI sebagai emiten yang paling potensial karena ekspansinya masih berada dalam ekosistem ritel dan gaya hidup yang sudah dikuasai.
Terkait prospek investasi, MAPI mendapatkan sentimen positif dari analis dengan target harga saham di kisaran Rp 1.700 hingga Rp 2.200 per lembar. Proyeksi ini didasarkan pada kekuatan fundamental, potensi perbaikan daya beli masyarakat pada semester kedua, serta keberhasilan perusahaan dalam menjaga pertumbuhan same store sales growth. Untuk emiten lainnya, analis menyarankan investor untuk bersikap selektif menunggu bukti nyata kontribusi pendapatan dari lini bisnis baru tersebut.























