Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan kinerja positif pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026.
Mata uang Garuda ditutup menguat di level Rp 17.852 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi ini mencerminkan apresiasi sebesar 0,40% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level Rp 17.922 per dolar AS.
Tren penguatan serupa juga terekam dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia.
Rupiah pada kurs referensi BI berada di level Rp 17.856 per dolar AS, menguat 0,59% dari posisi sebelumnya di Rp 17.962 per dolar AS.
Sentimen positif dari dalam negeri menjadi katalis utama di balik penguatan mata uang nasional tersebut.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi domestik kini meningkat pesat.
Salah satu pemicunya adalah rencana pemerintah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara (BUMN).
Presiden Prabowo Subianto berkomitmen memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi 250 perusahaan.
Langkah strategis ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan beban anggaran negara secara signifikan.
Selain itu, keputusan pemerintah untuk menolak tawaran pinjaman sebesar US$ 30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) turut memberikan sentimen positif.
Keputusan tersebut dipandang sebagai bukti kemandirian dan kesiapan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintah memiliki keyakinan terhadap kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan global.
Bagi pelaku pasar, keputusan tersebut mempertegas optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, ujar Ibrahim, Senin, 26 Juni 2026.
Dukungan likuiditas juga menjadi faktor pendukung penguatan rupiah pada awal pekan ini.
Pemerintah menempatkan kembali dana pemerintah dari Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp 281 triliun.
Pemerintah turut menyiapkan dana siaga sebesar Rp 100 triliun untuk memperkuat likuiditas perbankan nasional.
Dana tersebut disiapkan sebagai upaya mendorong akselerasi penyaluran kredit bagi sektor riil.
Dari sisi eksternal, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memberikan napas lega bagi pasar keuangan global.
Laporan mengenai kesepakatan penghentian permusuhan antara kedua pihak di Qatar berhasil menurunkan kekhawatiran pelaku pasar.
Sebelumnya, konflik tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Pasar juga mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat terkait indeks sentimen konsumen Universitas Michigan periode Juni.
Indeks tersebut tercatat naik ke level 49,5, lebih tinggi dibandingkan posisi bulan Mei sebesar 44,8.
Ekspektasi inflasi lima tahun AS tercatat melandai ke level 3,3% dari sebelumnya 3,4%.
Untuk perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.860 per dolar AS pada perdagangan esok hari.
























