Prospek Emiten Baja Tetap Cerah, Saham Ini Jadi Primadona Investor

persen

Jakarta – Industri baja dalam negeri diproyeksikan akan mencatatkan kinerja positif sepanjang semester II 2026 yang didorong oleh kombinasi penguatan harga jual global serta efisiensi biaya operasional.

Optimisme ini muncul seiring dengan kebijakan strategis pemerintah yang resmi menurunkan harga gas bumi hasil regasifikasi LNG untuk industri menjadi US$ 13 per MMBTU dari sebelumnya mencapai US$ 20,57 per MMBTU.

Langkah ini dinilai menjadi katalis penting bagi emiten untuk menekan beban produksi di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Data Trading Economics menunjukkan harga baja HRC telah melonjak 27,70 persen secara year to date menuju level US$ 1.194 per ton.

Meski harga baja secara umum masih terkoreksi tipis 1,03 persen di pasar internasional, fundamental emiten baja dinilai tetap prospektif.

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) menjadi salah satu perusahaan yang menyambut baik kebijakan penurunan harga gas tersebut sebagai penyeimbang beban operasional.

Corporate Secretary & Investor Relations ISSP, Johannes Edward, menyatakan bahwa kebijakan ini menjadi angin segar bagi pelaku industri di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku lainnya.

“Di tengah tekanan kenaikan harga bahan lain, tentunya hal ini dapat mendorong produktivitas industri baja,” ujar Johannes pada Kamis, 2 Juli 2026.

Pihak ISSP juga menyoroti langkah pemerintah dalam memperketat pengawasan impor melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dianggap efektif menekan praktik dumping.

Upaya penguatan peran Direktorat Jenderal Bea Cukai dalam mengawasi arus baja impor turut memberikan sentimen positif bagi stabilitas harga domestik.

Junior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai kinerja emiten seperti PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mulai menunjukkan perbaikan signifikan.

Kenaikan harga HRC steel telah tecermin dalam peningkatan pendapatan pada kuartal I 2026 yang disertai dengan pembalikan laba bersih.

Namun, dampak penuh dari penurunan harga gas bumi terhadap margin keuntungan diprediksi baru akan terlihat secara komprehensif pada laporan keuangan kuartal III mendatang.

“Dampaknya ke bottom line kemungkinan baru lebih terasa pada kuartal berikutnya, karena kebijakan gas baru diumumkan akhir Juni ini,” kata Kevin, Kamis, 2 Juli 2026.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menambahkan bahwa kinerja emiten baja di kuartal II masih bersifat variatif karena tantangan dumping impor yang masih membatasi daya tawar harga domestik.

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat bahwa meski KRAS telah melakukan restrukturisasi, margin operasional masih harus berhadapan dengan volatilitas harga slab.

Nafan melihat ISSP memiliki resiliensi yang lebih stabil berkat permintaan domestik yang kuat dari sektor manufaktur dan pembangunan infrastruktur nasional.

Para analis sepakat bahwa akselerasi anggaran APBN di semester II 2026 akan menjadi pendorong utama permintaan baja untuk proyek konstruksi.

Proyek strategis nasional yang didukung pendanaan dari Danantara juga berpotensi memberikan sentimen positif bagi rencana ekspansi hulu emiten di masa mendatang.

Meski demikian, risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat memicu kenaikan biaya bahan baku impor tetap menjadi faktor yang patut diwaspadai oleh para pelaku pasar.

Pemulihan kinerja emiten baja diprediksi akan berlangsung secara bertahap seiring dengan terkendalinya tekanan baja impor di pasar dalam negeri.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar