Emiten Kembali Gelar Rights Issue demi Ekspansi dan Akuisisi Bisnis

Jakarta – Pasar modal Indonesia mencatatkan tren kenaikan aktivitas penghimpunan dana melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sepanjang paruh pertama 2026.

Sejumlah emiten secara agresif memanfaatkan instrumen ini untuk memperkuat struktur permodalan, melakukan ekspansi bisnis, hingga mendanai akuisisi strategis.

Aksi korporasi ini menjadi pilihan utama perusahaan guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang di tengah dinamika ekonomi yang menantang.

PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) menjadi salah satu pemain yang mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar Rp 500 miliar.

Dana tersebut ditargetkan untuk akselerasi di sektor manufaktur, pengembangan kendaraan listrik, serta perluasan portofolio di bidang pertambangan.

Secara rinci, perusahaan mengalokasikan Rp 200 miliar untuk penguatan modal anak usaha, PT Pilar Pratama Dinamika.

Sisa dana akan digunakan untuk pembangunan fasilitas assembling plant, riset kendaraan listrik, dan akuisisi perusahaan jasa pertambangan.

Di sisi lain, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) tengah memproses penerbitan 10,68 miliar saham baru.

Dengan harga pelaksanaan Rp 120 per saham, perseroan berpeluang menghimpun dana sebesar Rp 1,28 triliun.

Mayoritas dana tersebut rencananya digunakan untuk mengakuisisi produsen makanan ringan merek Momogi, yakni PT Sari Murni Abadi.

Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk menerbitkan 89,92 miliar saham baru.

Aksi ini berpotensi meraup dana hingga Rp 4,76 triliun yang mayoritas akan digunakan untuk pelunasan pinjaman melalui entitas anak.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi bahwa rights issue mendominasi pipeline penawaran umum di pasar modal domestik.

Hingga 30 Juni 2025, tercatat masih ada 11 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif mencapai Rp 15,84 triliun.

“Sampai dengan 30 Juni 2025, pada pipeline OJK masih terdapat 11 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 15,84 triliun,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dikutip dari konferensi pers, Selasa (7/7/2026).

Sebanyak lima perusahaan dalam pipeline tersebut merupakan emiten yang akan melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT).

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga 8 Juli 2026, empat perusahaan telah merealisasikan aksi ini dengan total nilai Rp 3,89 triliun.

“Per 8 Juli 2026 telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,89 triliun. Sementara masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, dikutip dari pernyataan resmi, Rabu (8/7/2026).

Menanggapi fenomena ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyarankan investor untuk mencermati tujuan penggunaan dana sebelum mengambil keputusan.

Nafan menilai pasar cenderung memberikan respons positif jika dana digunakan untuk ekspansi yang produktif.

“Tren penguatan harga saham COCO dipengaruhi sentimen rights issue senilai Rp1,28 triliun. Sebagian besar dana akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi,” ujar Nafan, dikutip dari keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Ia juga memberikan pandangan positif terhadap langkah BNBR dalam memperkuat struktur pendanaan melalui anak usaha.

“Rights issue BNBR akan memperkuat struktur pendanaan melalui entitas anak. Selama penggunaan dana berjalan sesuai rencana, sentimen terhadap saham berpeluang tetap positif,” pungkas Nafan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar