New York – Pasar saham Amerika Serikat mencatatkan kinerja yang beragam pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026).
Sentimen investor terganggu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik dengan Iran.
Trump menegaskan bahwa upaya kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela KTT NATO di Turki.
Presiden bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan tambahan dari Washington dalam waktu dekat.
Ketidakpastian geopolitik ini memicu aksi jual di pasar saham, terutama pada sektor-sektor industri dan material.
Mengutip data dari Reuters, indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 0,28% ke level 7.482,71.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 1,09% ke posisi 52.348,39.
Berbeda arah, indeks Nasdaq Composite justru menguat tipis 0,20% ke level 25.870,65.
Sektor semikonduktor menjadi penopang pasar dengan indeks PHLX Semiconductor naik 2,23%.
Penguatan ini dipimpin oleh lonjakan saham Broadcom sebesar 4,8%.
Kenaikan Broadcom didorong oleh kesepakatan pasokan chip dengan Apple senilai US$ 30 miliar.
“Setiap kali Apple mengumumkan penggunaan produk atau teknologi sebuah perusahaan, dampaknya sangat positif, apalagi ada sekitar 2,5 miliar perangkat Apple yang digunakan di seluruh dunia,” ujar Chief Market Strategist di B. Riley Wealth, Art Hogan.
Saham Nvidia juga turut menguat 3,65% pasca laporan rencana China melonggarkan pembelian chip H200.
Namun, saham teknologi berkapitalisasi besar lainnya seperti Microsoft, Alphabet, dan Meta Platforms justru melemah.
Tekanan juga dirasakan oleh saham SpaceX yang merosot 0,8% ke level terendah sejak melantai di bursa.
Sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam S&P 500 ditutup di zona merah.
Lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 5,2% memperparah kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
Kondisi ini memicu aksi jual di pasar obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
“Yang menjadi kunci adalah durasinya. Berapa lama konflik ini akan berlangsung? Jika kita melihat kerusakan terhadap infrastruktur Iran, pasar kemungkinan harus merespons lebih serius karena besar kemungkinan akan ada aksi balasan dari Iran,” kata Senior Investment Strategist di U.S. Bank Wealth Management, Rob Haworth.
Sektor perjalanan, termasuk United Airlines, Delta Air Lines, dan operator kapal pesiar, ikut tertekan akibat kenaikan harga energi.
Risalah rapat Federal Reserve bulan lalu menunjukkan kekhawatiran mendalam pejabat bank sentral terhadap laju inflasi.
Pasar kini mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang.
Ketidakpastian ekonomi global semakin terasa setelah IMF memangkas proyeksi pertumbuhan tahun 2026 menjadi 3%.
Lembaga tersebut secara khusus menyoroti risiko berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah bagi stabilitas ekonomi dunia.
























