Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,14 persen pada periode perdagangan 6 hingga 10 Juli 2026.
Data dari IDX Mobile yang dirilis Minggu (12/7/2026) menunjukkan indeks bergerak di rentang 5.840 hingga 5.988 sepanjang pekan.
Total volume perdagangan selama sepekan mencapai 102,44 miliar lembar saham.
Nilai transaksi tercatat menyentuh angka Rp51,34 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 9,36 juta kali.
Kapitalisasi pasar bursa ditutup pada angka Rp10,34 triliun, meningkat 0,51 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di posisi Rp10,29 triliun.
Kinerja pasar modal domestik pekan ini diwarnai oleh kebijakan pembekuan rebalancing saham Indonesia oleh MSCI Inc.
Kebijakan tersebut mencakup pembekuan peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS) bagi saham-saham dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI).
Selain itu, MSCI tidak akan melakukan penambahan indeks baru maupun kenaikan kelas bagi saham-saham Indonesia dari Global Small Cap Index ke Global Standard Index.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak memberikan kejutan signifikan bagi pelaku pasar.
“Dengan demikian, keputusan mempertahankan freeze bukan lagi merupakan kejutan atau negative surprise bagi pelaku pasar,” ujar Nafan Aji dikutip dari laporan resmi analis, (12/7/2026).
Menurut Nafan, pergerakan IHSG saat ini lebih didorong oleh sentimen domestik dan perbaikan kondisi global.
Ekspektasi penurunan suku bunga global serta fundamental ekonomi Indonesia yang stabil menjadi penopang utama pasar.
“Faktor-faktor tersebut sementara mampu mengimbangi sentimen negatif dari MSCI,” tutur Nafan Aji.
Di sisi lain, S&P Dow Jones Indices (DJI) memberikan peringatan bagi pasar modal Indonesia terkait status negara berkembang (emerging market).
Indonesia kini masuk dalam daftar pantauan atau watchlist dengan risiko penurunan status menjadi Special Measures atau Frontier pada tinjauan tahun 2027.
Potensi penurunan tersebut dipicu oleh kekhawatiran S&P DJI terhadap transparansi kepemilikan saham di pasar modal tanah air.
Sementara itu, aktivitas investor asing menunjukkan tren penjualan bersih (net sell) sebesar Rp1,74 triliun.
Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan nilai net sell pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp2,73 triliun.
Dominasi transaksi selama sepekan dipegang oleh investor lokal dengan porsi 62 persen, sementara investor asing berkontribusi sebesar 38 persen.
Investor lokal tercatat melakukan pembelian sebesar Rp32,33 triliun dan penjualan sebesar Rp31,14 triliun.
Sebaliknya, aksi jual investor asing mencapai Rp20,2 triliun, sementara aksi beli tercatat sebesar Rp18,46 triliun.
Sejumlah emiten mencatatkan kinerja saham impresif dengan penguatan di atas 20 persen.
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 112 persen ke level Rp106.
Disusul oleh PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang menguat 37,21 persen dan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) naik 30,39 persen.
Daftar saham dengan performa terbaik lainnya mencakup LAND, KOKA, BKDP, ARTO, MMIX, ASPI, dan ISEA.




















