Jakarta – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional bersama Walhi Papua menemukan ratusan titik panas atau hotspot yang terkonsentrasi di area proyek pangan skala besar dan wilayah konsesi di Papua Selatan.
Temuan ini merupakan hasil analisis spasial melalui overlay data titik panas dengan peta konsesi serta lahan Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 1 hingga 9 Juli 2026.
Data menunjukkan setidaknya terdapat 245 titik panas yang terdeteksi di kawasan Food Estate.
Selain itu, sebanyak 115 titik panas ditemukan di area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Analisis tersebut juga mencatat 39 titik panas berada di dalam konsesi perkebunan kelapa sawit.
Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menyatakan bahwa temuan ini mengindikasikan kawasan yang diproyeksikan sebagai lumbung pangan nasional justru mengalami tekanan ekologis sejak tahap awal pembangunan.
“Kebakaran yang akan berulang di kawasan seperti ini tidak dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata, melainkan bagian dari perubahan bentang alam yang berlangsung masif,” ujar Uli dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).
Papua Selatan secara alami ditopang oleh hutan dataran rendah, rawa, dan ekosistem gambut yang berfungsi menjaga kelembapan lanskap.
Namun, ekosistem tersebut kini menghadapi ancaman signifikan setelah pemerintah melepas 486.989 hektare hutan menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) pada tahun lalu.
Alih fungsi lahan ini ditujukan untuk mendukung program swasembada pangan, energi, dan air nasional.
Walhi menilai perubahan tutupan hutan melalui pembukaan lahan, pembangunan infrastruktur jalan, hingga pengeringan rawa secara drastis mengubah karakter ekologis wilayah tersebut.
Kondisi ini membuat lanskap Papua Selatan menjadi jauh lebih rentan terhadap ancaman kebakaran, terutama saat memasuki musim kering.
Uli menambahkan bahwa sebaran api tidak hanya terbatas pada kawasan yang telah dibuka, tetapi juga merambah ke sekitar konsesi aktif.
“Pola ini mengindikasikan, ekspansi berbagai izin pemanfaatan lahan telah meningkatkan tekanan terhadap bentang alam Papua Selatan,” tegasnya.
Data serupa juga dilaporkan oleh Pantau Gambut melalui analisis periode Januari hingga Juni 2026.
Lembaga tersebut mencatat 1.310 titik panas di kawasan PSN pangan, energi, dan air di Papua Selatan.
Penyebaran titik panas terbanyak tercatat di Kabupaten Mappi dengan 1.007 titik, diikuti Merauke sebanyak 217 titik, Asmat 75 titik, dan Boven Digoel 11 titik.
Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menyoroti bahwa tingginya jumlah titik panas menunjukkan besarnya tekanan terhadap rawa gambut di tengah percepatan pembangunan.
“Jika tidak, kebakaran, kerusakan lingkungan, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat hanya akan menjadi konsekuensi yang terus berulang,” ujar Putra.
Risiko kebakaran semakin meningkat dengan adanya fenomena El Nino yang dapat memperparah dampak kerusakan jika lanskap kehilangan kemampuan hidrologisnya.
Catatan Pantau Gambut menunjukkan bahwa pada periode 2015-2024, sekitar 3 juta hektare lahan gambut di Indonesia telah terbakar, dengan eskalasi signifikan pada tahun-tahun El Nino.
Data historis menunjukkan kegagalan pemulihan ekosistem, di mana hanya sebagian kecil area terbakar yang berhasil kembali menjadi hutan, sementara sisanya beralih fungsi menjadi semak belukar atau perkebunan monokultur.






















