Menakar Peluang Investasi Saham dan Obligasi Semester II 2026

Menakar Peluang Investasi Saham dan Obligasi Semester II 2026

Jakarta – Pasar keuangan Indonesia diprediksi memasuki fase pemulihan pada paruh kedua tahun 2026 seiring dengan semakin terjangkaunya valuasi aset domestik.

Koreksi tajam yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang semester pertama tahun ini justru menciptakan peluang bagi investor untuk masuk ke pasar.

Tingkat valuasi saham saat ini dinilai telah berada di posisi yang sangat murah dibandingkan rata-rata historisnya.

Executive Director, Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, mengungkapkan bahwa rasio price to earnings (PE) saham-saham di bursa domestik kini berada di bawah standar deviasinya.

“Kalau kita melihat valuasi saham-saham itu sudah sangat murah. Price to earnings (PE) berada di bawah standar deviasinya secara historis, sehingga secara valuasi sangat menarik,” ujar Emillya dalam acara Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Selain pasar ekuitas, instrumen pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah kini menawarkan imbal hasil yang kian kompetitif.

Tingkat imbal hasil atau yield obligasi yang telah menembus angka 7,2% menjadi magnet baru bagi para pelaku pasar.

Tekanan berat memang sempat mendera pasar keuangan Indonesia, terutama pada kuartal kedua 2026.

Nilai tukar rupiah sempat terdepresiasi hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.

Sementara itu, IHSG mencatatkan koreksi tahun berjalan hingga 35 persen pada akhir Juni lalu.

Kondisi tersebut sempat menempatkan bursa Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan kinerja terendah di dunia.

Kekhawatiran pasar dipicu oleh keputusan rebalancing dari MSCI yang memicu risiko penurunan status peringkat pasar Indonesia ke kategori frontier market.

Namun, Emillya menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi tidak mencerminkan krisis ekonomi yang mendalam.

“Kalau kita melihat apakah ekonomi dalam kondisi krisis, saya rasa tidak. Kalau melihat kelemahan, iya, tetapi bukan dalam kondisi krisis,” tegasnya.

Stabilitas pasar saat ini juga mendapat sokongan dari langkah antisipatif pihak otoritas terkait.

Koordinasi antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan pemerintah dinilai telah bekerja cukup efektif dalam meredam volatilitas.

Di sisi lain, tantangan stabilitas nilai tukar rupiah masih menjadi fokus utama bagi investor global.

Arus keluar dana asing menuntut adanya premi risiko yang lebih menarik agar modal dapat kembali mengalir ke pasar domestik.

Proyeksi kebijakan moneter ke depan juga turut mewarnai lanskap investasi di sisa tahun 2026.

UOB memprediksi Bank Indonesia berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali hingga akhir tahun.

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, memproyeksikan kenaikan total sebesar 75 basis poin hingga mencapai level 6,5 persen dari posisi saat ini di 5,75 persen.

“Dari sisi opportunity, itu ada dari sisi valuasinya kemudian juga yang kedua dari sisi imbal hasil terutama imbal hasil obligasi sekarang sudah di atas 7%. Jadi ini sangat menarik,” kata Enrico.

Kenaikan suku bunga tersebut dinilai sebagai upaya strategis untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Meskipun kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, kebijakan ini dipandang mampu menjaga daya tarik aset domestik.

Ketersediaan likuiditas perbankan diharapkan dapat diarahkan ke sektor-sektor produktif seperti manufaktur dan UMKM untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar