Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan secara resmi melakukan penyesuaian target penyerapan dana melalui instrumen Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030.
Otoritas fiskal memutuskan untuk meningkatkan kuota nasional penerbitan surat utang tersebut dari Rp 20 triliun menjadi Rp 25 triliun pada Jumat (17/7/2026).
Langkah penambahan kuota sebesar Rp 5 triliun ini dilakukan guna mengakomodasi tingginya antusiasme masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis syariah dan konvensional yang diterbitkan negara.
Seluruh alokasi tambahan tersebut difokuskan untuk seri ORI030T6, sehingga komposisi akhir kuota menjadi Rp 20 triliun untuk ORI030T3 dan Rp 5 triliun untuk ORI030T6.
Tingginya minat pasar tercermin dari data mitra distribusi yang menunjukkan bahwa hingga Kamis (16/7/2026), total pemesanan telah menembus angka Rp 20,15 triliun.
Pencapaian tersebut setara dengan 80,61% dari total kuota nasional yang telah direvisi, menyisakan ruang investasi sekitar Rp 4,85 triliun bagi calon pemodal.
Daya tarik utama instrumen ini terletak pada skema kupon tetap atau fixed rate yang menjanjikan imbal hasil konsisten hingga masa jatuh tempo.
ORI030T3 menawarkan kupon sebesar 6,90% per tahun, sementara seri ORI030T6 memberikan imbal hasil lebih tinggi di angka 7,00% per tahun.
Kepastian imbal hasil ini menjadi pelindung bagi investor di tengah potensi fluktuasi suku bunga acuan di masa depan.
Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, mengungkapkan bahwa target penjualan di platformnya telah berhasil dilampaui seiring dengan tingginya minat masyarakat.
“Minat investor masih sama seperti seri ORI sebelumnya. Namun, tenor tiga tahun masih menjadi pilihan yang paling diminati,” ujar Ni Putu Kurniasari, sebagaimana dikutip dari laporan resmi perusahaan, Kamis (16/7/2026).
Ia menambahkan bahwa terdapat pergeseran perilaku investor dalam seri kali ini jika dibandingkan dengan penerbitan obligasi sebelumnya.
“Yang berbeda adalah nilai pembelian per investor meningkat lebih dari 50% dibandingkan seri ORI sebelumnya. Karena itu, total nilai pembelian tumbuh cukup signifikan,” jelasnya dalam pernyataan yang sama.
Respons positif juga datang dari mitra distribusi lainnya, yakni Bibit, yang mencatat kinerja penjualan di atas rata-rata seri sebelumnya.
Head of PR & Corporate Communication Bibit, William Ndut, menyebutkan bahwa performa ORI030 melampaui capaian Sukuk Tabungan seri ST016 pada periode awal penawaran.
“Respons pasar sangat baik. Angka penjualan dalam delapan hari pertama masa penawaran lebih tinggi dibandingkan ST016 maupun seri ORI sebelumnya,” tutur William Ndut, melalui keterangan yang dihimpun pada Kamis (16/7/2026).
William meyakini bahwa tren penjualan ORI030 berpotensi mencetak rekor baru dalam sejarah penerbitan obligasi ritel.
Data internal menunjukkan bahwa dalam sembilan hari pertama penawaran, volume transaksi telah melampaui rekor yang pernah dicatatkan oleh instrumen investasi serupa sebelumnya.
Tingginya permintaan ini mengonfirmasi bahwa instrumen surat utang negara masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengelola portofolio aset di tengah dinamika pasar keuangan global.





















