Menakar Prospek Emiten yang Menggarap Proyek Waste to Energy Tahap II

Menakar Prospek Emiten yang Menggarap Proyek Waste to Energy Tahap II

Jakarta – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai memperkuat posisinya dalam sektor infrastruktur energi baru terbarukan melalui keterlibatan aktif dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE).

Langkah strategis ini mencuat setelah PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) resmi menetapkan delapan konsorsium pemenang untuk pengembangan proyek PSEL tahap kedua.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi salah satu pemain kunci melalui anak usahanya, Chandra Waste Energy, yang bergabung dalam Konsorsium Masa Depan Energi Indonesia untuk menggarap proyek di wilayah Serang Raya.

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) juga tercatat terlibat dalam Konsorsium Bumi Biru Indonesia yang memegang proyek PSEL di Lampung Raya dengan menggandeng SUS Indoplas sebagai mitra strategis.

Sementara itu, proyek PSEL di Surabaya Raya dikelola oleh Konsorsium Mentari Citra Lestari yang di dalamnya melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui PT Bakrie Power serta PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI) melalui afiliasinya, SUS Indonesia Holdings.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyatakan bahwa keterlibatan dalam proyek PSEL memberikan potensi pertumbuhan pendapatan jangka panjang bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

“Model bisnis PSEL umumnya didukung kontrak jangka panjang selama 20–30 tahun dengan pemerintah daerah dan PLN, sehingga memberikan arus kas yang relatif stabil setelah fasilitas mulai beroperasi,” ujar Arinda sebagaimana dikutip dari laporan analisis pasar tertanggal 16 Juli 2026.

Meski demikian, Arinda mengingatkan bahwa proyek ini memiliki profil risiko yang cukup tinggi bagi para emiten.

“Tantangannya juga cukup besar, seperti kebutuhan belanja modal yang tinggi, masa konstruksi yang panjang, risiko keterlambatan perizinan, kepastian pasokan sampah, hingga ketergantungan terhadap dukungan regulasi dan skema tarif listrik,” ungkapnya, Kamis (16/7/2026).

Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti pentingnya struktur pembiayaan yang sehat dalam proyek padat modal ini.

Menurut Nafan, keberhasilan emiten dalam proyek PSEL sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menyeimbangkan pendanaan ekuitas, pinjaman perbankan, serta pemanfaatan instrumen green financing.

“Keberhasilan proyek bukan hanya ditentukan oleh kemampuan membangun fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan menyusun struktur pendanaan yang efisien serta mengelola risiko operasional,” ujar Nafan, Kamis (16/7/2026).

Nafan menambahkan bahwa prospek keterlibatan emiten lain masih terbuka lebar seiring dengan target pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan sampah nasional.

Ke depannya, proyek ini diproyeksikan akan menarik minat perusahaan yang memiliki rekam jejak kuat di sektor energi, utilitas, serta kontraktor EPC dengan neraca keuangan yang mumpuni.

Di sisi lain, investor tetap diminta waspada terhadap risiko perubahan kebijakan tarif, pembengkakan biaya konstruksi, serta ketidakpastian volume pasokan sampah yang dapat memengaruhi kelayakan proyek.

Terkait prospek saham, analis memberikan pandangan positif terhadap emiten yang terlibat, dengan TPIA menjadi salah satu saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh para pelaku pasar.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar