Jakarta – Gelombang investasi masif pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai membuahkan hasil nyata bagi kinerja keuangan perusahaan teknologi raksasa global.
Dominasi sektor ini tercermin dari laporan keuangan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar, sekaligus memicu reli signifikan pada harga saham di bursa efek sepanjang tahun 2026.
Amazon mencatat sejarah baru dengan menembus kapitalisasi pasar sebesar US$ 3 triliun atau setara Rp 54.000 triliun.
Pencapaian ini terjadi setelah harga saham perusahaan naik 5% ke level US$ 285 per lembar, yang sekaligus menjadi rekor tertinggi baru bagi perseroan.
Secara kumulatif, saham Amazon telah mencatatkan penguatan lebih dari 23% sepanjang tahun berjalan ini.
Sentimen positif ini turut menjalar ke emiten teknologi lainnya, di mana Microsoft menguat 4%, Meta Platforms naik 6%, Alphabet menguat 3,6%, dan Oracle mencatatkan kenaikan 5%.
“Amazon mungkin merupakan perusahaan yang paling mencerminkan kondisi perekonomian saat ini. Ini adalah kisah tentang konsumen sekaligus kisah tentang AI,” ujar Kepala Strategi Pasar Nationwide, Mark Hackett, dikutip dari Reuters, Senin (3/8).
Tren belanja modal untuk pengembangan infrastruktur AI dipastikan tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Amazon membukukan pendapatan sebesar US$ 200,6 miliar pada kuartal II 2026, yang didorong oleh pertumbuhan pesat unit bisnis cloud, Amazon Web Services (AWS).
Presiden dan CEO Amazon, Andy Jassy, menyatakan bahwa bisnis cloud perusahaan terus tumbuh pesat seiring meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor.
“AWS sedang berkembang pesat dengan pertumbuhan 36,7% secara tahunan pada kuartal II, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam 18 kuartal terakhir. Bisnis AI dan bisnis chip kami masing-masing juga telah melampaui tingkat pendapatan tahunan lebih dari US$ 25 miliar,” ungkap Andy Jassy.
Di sisi lain, Microsoft melaporkan pendapatan kuartal IV tahun fiskal 2026 mencapai US$ 90 miliar, dengan segmen cloud menjadi kontributor utama.
CEO Microsoft, Satya Nadella, menegaskan bahwa perusahaan terus memanfaatkan AI untuk menghasilkan nilai bisnis bagi pelanggan, yang terefleksi dari meluasnya penerapan teknologi tersebut.
Alphabet juga mencatatkan kinerja impresif dengan pendapatan US$ 119,8 miliar, di mana Google Cloud melonjak 82% akibat tingginya permintaan infrastruktur AI.
CEO Alphabet dan Google, Sundar Pichai, menyebut bahwa investasi pada AI kini mulai memberikan hasil nyata terhadap fundamental bisnis perusahaan.
Meta Platforms mencatatkan pendapatan US$ 60,8 miliar, meski laba bersih perusahaan mengalami penurunan 14% akibat tingginya biaya operasional untuk pengembangan AI.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyatakan bahwa AI mulai memberikan dampak positif terhadap bisnis inti sekaligus membuka peluang baru.
Sementara itu, NVIDIA melaporkan pendapatan US$ 46,7 miliar dengan unit Data Center sebagai penyumbang terbesar.
Pendiri sekaligus CEO NVIDIA, Jensen Huang, menyebut platform Blackwell kini menjadi motor utama pertumbuhan di tengah kebutuhan komputasi AI yang terus melonjak.
























