Bunga The Fed Bertahan Tinggi, Infovesta Sarankan Obligasi AS dan USD

Kholida Rahman

Bunga The Fed Bertahan Tinggi, Infovesta Sarankan Obligasi AS dan USD

Jakarta – Investor di Indonesia kini memiliki peluang strategis untuk mengalihkan fokus portofolio mereka ke aset-aset luar negeri atau offshore di tengah dinamika ekonomi global yang sedang bergejolak.

Langkah ini dipicu oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada pertemuan FOMC September 2026.

Keputusan tersebut secara langsung memicu penguatan indeks dolar AS yang kini bertengger di level 100,5 pada Jumat (18/9/2026).

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyatakan bahwa penguatan dolar AS tersebut justru menjadi momentum bagi investor domestik untuk melakukan diversifikasi aset.

“Kenaikan suku bunga acuan global tersebut justru membuat aset offshore tetap menarik,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Infovesta Utama, Jumat (18/9/2026).

Selain berfungsi sebagai sarana diversifikasi, aset berdenominasi dolar AS dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang efektif terhadap risiko fluktuasi nilai tukar.

Daya tarik utama saat ini terletak pada instrumen pendapatan tetap, terutama US Treasury dengan tenor 10 tahun yang telah mencapai imbal hasil atau yield sebesar 4,9%.

Tingkat imbal hasil ini dinilai sangat kompetitif bagi investor yang menginginkan keuntungan stabil dengan profil risiko yang terukur.

Sebaliknya, Wawan menyarankan agar para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap instrumen saham global.

“Saham global sudah naik cukup tinggi sehingga potensi koreksi terbuka jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama,” kata Wawan, Jumat (18/9/2026).

Dalam konteks manajemen risiko, ia merekomendasikan instrumen pendapatan tetap dalam dolar AS sebagai pilihan yang paling rasional dari sisi perbandingan risiko dan imbal hasil.

Pilihan tersebut mencakup obligasi pemerintah Amerika Serikat untuk tenor pendek hingga menengah, serta instrumen pasar uang dalam mata uang dolar AS.

“Untuk saat ini pendapatan tetap USD paling menarik dari sisi risk-reward, baik obligasi pemerintah AS tenor pendek-menengah, money market USD, karena yield 4%-5% relatif aman,” tutur Wawan.

Bagi investor dengan profil risiko yang lebih agresif, reksadana global berbasis syariah dapat menjadi alternatif untuk tetap mendapatkan eksposur di pasar saham internasional.

Strategi investasi yang disarankan adalah melakukan alokasi secara bertahap atau menggunakan metode dollar cost averaging (DCA).

Secara ideal, porsi aset luar negeri dalam sebuah portofolio disarankan berada di kisaran 10% hingga 30%, tergantung pada profil risiko masing-masing individu.

Namun, porsi tersebut dapat disesuaikan bagi mereka yang memang memiliki kebutuhan finansial dalam mata uang dolar AS di masa depan.

Investor juga diingatkan untuk tetap memperhatikan legalitas produk dan transparansi biaya sebelum menempatkan modal.

Risiko utama yang perlu diwaspadai bukan hanya berasal dari volatilitas harga aset, melainkan juga pergerakan nilai tukar mata uang.

Penguatan rupiah di masa depan berpotensi menggerus keuntungan saat investasi dalam dolar AS dikonversikan kembali ke mata uang domestik.

Wawan menekankan perlunya kewaspadaan terhadap risiko kurs dua arah, terutama jika The Fed mulai mengubah arah kebijakan moneter mereka di masa mendatang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar