Ancaman Super El Nino Picu Kenaikan Harga Pangan dan Inflasi

Ikhwan Setiawan

Ancaman Super El Nino Picu Kenaikan Harga Pangan dan Inflasi

Jakarta – Indonesia kini menghadapi ancaman inflasi yang signifikan akibat fenomena cuaca Super El Nino yang diperkirakan sebagai salah satu yang terkuat dalam kurun waktu 76 tahun terakhir.

Dampak dari fenomena ini diproyeksikan akan memicu lonjakan harga pangan secara drastis di dalam negeri.

Berdasarkan analisis yang dikutip dari Bloomberg (5/8/2026), Indonesia menempati posisi teratas dengan potensi kenaikan inflasi mencapai 1,87 poin persentase.

Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling terdampak dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asia.

Sebagai perbandingan, Filipina diperkirakan mengalami kenaikan inflasi sebesar 1,85 poin, Malaysia 1,11 poin, Thailand 0,79 poin, dan India 0,73 poin persentase.

Kekeringan berkepanjangan menjadi faktor utama yang mengganggu produktivitas sektor pertanian nasional.

Gangguan pada hasil panen ini secara langsung memperketat pasokan bahan pokok di pasar domestik.

Masyarakat Indonesia menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap guncangan harga ini.

Riset dari Allianz menunjukkan bahwa sekitar 35 persen pengeluaran rumah tangga di Indonesia dialokasikan khusus untuk kebutuhan pangan.

Oleh karena itu, setiap kenaikan harga komoditas seperti beras, minyak goreng, dan cabai akan memberikan tekanan langsung terhadap daya beli masyarakat.

Tren kenaikan harga pada beras dan minyak goreng bahkan sudah mulai terdeteksi di sejumlah wilayah dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi ini diperparah oleh kondisi ekonomi global yang masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga energi.

Selain masalah produksi pangan, ancaman dari sisi logistik juga menjadi kekhawatiran serius bagi stabilitas harga.

Tarif pengiriman kontainer laut global tercatat sempat melampaui level US$4.600 per kontainer 40 kaki.

Kenaikan biaya logistik ini dipicu oleh gangguan pelayaran di Timur Tengah serta pembatasan kapasitas kapal di Terusan Panama akibat kekeringan.

Kondisi tersebut memperburuk rantai pasok barang impor maupun distribusi pangan di dalam negeri.

Senior Climate Economist Allianz, Hazem Krichene, menilai bahwa fenomena El Nino saat ini telah menjadi penghubung antara krisis perubahan iklim dan tekanan ekonomi global.

“El Niño menjadi perantara antara ekonomi dan iklim yang terus menghangat. Ini menjadi persoalan serius bagi negara-negara yang juga sedang menghadapi tekanan geopolitik dan tantangan domestik,” ucapnya sebagaimana dirilis Bloomberg (5/8/2026).

Pemerintah kini dituntut untuk memperkuat berbagai langkah stabilisasi harga guna meredam dampak tersebut.

Upaya mitigasi yang diperlukan mencakup pengamanan stok pangan nasional serta percepatan distribusi barang ke daerah-daerah.

Intervensi pasar menjadi opsi krusial yang kemungkinan besar akan diambil jika tekanan harga terus meningkat.

Sinergi antara kebijakan fiskal dan manajemen stok pangan menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman cuaca ekstrem.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar