Jakarta – Ketersediaan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan kini menjadi variabel penentu utama bagi ambisi Indonesia dalam membangun ekosistem pusat data serta kecerdasan buatan (AI) berskala besar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa keunggulan geografis dan kekayaan sumber daya alam domestik harus dimanfaatkan secara optimal untuk memposisikan Indonesia sebagai hub infrastruktur digital di kawasan ASEAN.
Menurut Airlangga, pengembangan teknologi mutakhir seperti komputasi kuantum dan kecerdasan buatan mustahil dapat direalisasikan tanpa fondasi energi yang memadai.
“Quantum computing dan AI tidak bisa didirikan tanpa tanah, tanpa air, dan tanpa energi,” ujar Airlangga dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference & Expo 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).
Pemerintah saat ini tengah mengoptimalkan beragam sumber energi domestik, mulai dari batu bara, tenaga air, panas bumi, hingga energi surya.
Strategi hilirisasi silika sebagai bahan baku panel surya menjadi salah satu langkah kunci dalam mendukung target pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW).
Pemerintah berencana memanfaatkan lahan di sekitar 80 ribu desa untuk pembangunan pembangkit skala kecil yang akan dihubungkan melalui sistem jaringan listrik pintar atau smart grid.
Airlangga menyoroti bahwa integrasi listrik antarpulau melalui smart grid merupakan tantangan mendesak yang harus segera dituntaskan.
Meskipun konektivitas digital melalui kabel serat optik bawah laut telah terbangun dengan baik, jaringan listrik nasional dinilai masih memerlukan integrasi yang lebih komprehensif.
“Kalau kita bisa meng-connect digital melalui fiber optik, masa energi tidak bisa terhubung antarpulau,” katanya.
Keunggulan posisi strategis Indonesia juga terlihat dari jaringan kabel bawah laut global yang tidak melewati Laut Cina Selatan.
Kondisi ini menjadikan jalur kabel bawah laut Indonesia sebagai alternatif konektivitas internasional yang krusial menuju Amerika Serikat.
“Indonesia punya fiber optik yang tidak lewat Laut Cina Selatan. Berbagai negara mengejar akses ke Amerika Serikat melalui Indonesia,” ucapnya.
Airlangga menekankan pentingnya momentum ini untuk mempercepat pembangunan ekosistem digital dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan bahwa pemerintah menargetkan ekonomi digital mampu menyumbang 19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2045.
Target tersebut merupakan bagian dari Visi Indonesia Emas 2045 yang didorong oleh besarnya bonus demografi.
Pada 2030, Indonesia diprediksi memiliki lebih dari 200 juta penduduk usia produktif atau sekitar 60% dari total populasi.
“Inilah yang kita kenal sebagai bonus demografi. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya peluang yang dimiliki Indonesia,” ujar Edwin.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar atau konsumen teknologi global.
Negara harus bertransformasi menjadi pencipta nilai atau digital value creator di kancah internasional.
Untuk mencapai visi tersebut, Komdigi menerapkan strategi 6C yang mencakup aspek konektivitas, kompetensi, modal, katalis, perdagangan, dan kepatuhan.
Strategi ini bertujuan memastikan infrastruktur digital berkembang selaras dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola yang memberikan kepastian hukum bagi investor.
























