Jakarta – Sektor properti kawasan industri di Indonesia menunjukkan dinamika kinerja yang bervariasi sepanjang semester I 2026.
Sejumlah emiten besar mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, sementara beberapa lainnya masih bergelut dengan tantangan beban operasional serta fluktuasi selisih kurs.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menjadi salah satu perusahaan yang menonjol dengan lonjakan pendapatan usaha mencapai Rp 1,80 triliun pada paruh pertama 2026.
“Dibandingkan dengan pendapatan usaha di semester I 2025 sebesar Rp 613,36 miliar, pendapatan usaha tahun ini naik hampir tiga kali lipat,” ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk, Tondy Suwanto, seperti dikutip dari laporan perusahaan.
Seiring dengan kenaikan tersebut, laba bersih DMAS tercatat melesat 175,34% menjadi Rp 1,19 triliun.
Di sisi lain, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) turut mencatatkan performa positif dengan pendapatan sebesar Rp 3,3 triliun, naik 58,39% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
VP Investor Relations & Sustainability SSIA, Erlin Budiman, mengungkapkan bahwa capaian ini didorong oleh kuatnya pengakuan penjualan dari bisnis kawasan industri.
SSIA berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 262,55 miliar, setelah sebelumnya mengalami kerugian pada paruh pertama 2025.
Sementara itu, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) membukukan pendapatan Rp 380,42 miliar atau naik 303,35% secara tahunan (YoY).
Namun, BEST masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 144,32 miliar per akhir Juni 2026.
Kondisi berbeda dialami PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) yang membukukan pendapatan konsolidasian Rp 2,43 triliun, turun 11% dibandingkan tahun lalu.
KIJA mencatat rugi bersih sebesar Rp 6,4 miliar, yang menurut manajemen disebabkan oleh beban non-operasional bersifat satu kali (one-off) akibat proses refinancing utang.
Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda, menjelaskan bahwa langkah strategis tersebut dilakukan untuk mengonversi Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.
“Ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan perseroan periode berjalan,” ungkap Muljadi.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menilai perbedaan kinerja emiten ini dipengaruhi oleh waktu pengakuan penjualan lahan yang bersifat lumpy atau tidak merata.
“Bisnis kawasan industri memang cenderung lumpy karena transaksi lahan nilainya besar dan pengakuannya tidak selalu merata setiap kuartal,” kata Ester, Minggu (9/8/2026).
Meskipun terdapat tantangan, prospek sektor ini dinilai tetap positif karena permintaan dari sektor data center, kendaraan listrik (EV), baterai, dan logistik terus tumbuh.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menambahkan bahwa prospek kinerja emiten properti kawasan industri pada semester II 2026 berpeluang tetap terjaga.
“KIJA punya peluang rebound ke laba karena beban refinancing sifatnya tidak berulang dan fondasi operasionalnya masih sehat,” ujar Adrian, Jumat (7/8/2026).




















