Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan hari Rabu (26/8/2026), meskipun antusiasme investor asing di pasar modal Indonesia tetap tinggi.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG ditutup melemah sebesar 1,48 persen atau terkoreksi 95,86 poin ke level 6.405,68.
Kondisi pasar sepanjang hari perdagangan didominasi oleh pergerakan di zona merah.
Fenomena menarik terjadi saat investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 1,37 triliun.
Besarnya aliran modal masuk dari investor asing ini tampak kontras dengan penurunan indeks yang cukup dalam.
Tekanan jual yang luas terlihat dari performa seluruh indeks sektoral yang kompak berada di teritori negatif.
Sektor transportasi menjadi sektor yang paling terdampak dengan penurunan mencapai 4,15 persen.
Sektor properti dan real estat menyusul dengan pelemahan sebesar 2,71 persen.
Sektor energi juga mencatatkan koreksi sebesar 2,61 persen.
Tekanan berlanjut pada sektor barang konsumer nonprimer yang turun 2,42 persen.
Sektor perindustrian dan logistik melemah 2,36 persen, sementara sektor infrastruktur terkoreksi 2,26 persen.
Penurunan juga melanda sektor barang baku sebesar 1,49 persen dan barang konsumer primer sebesar 1,47 persen.
Sektor keuangan dan kesehatan masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 1,03 persen dan 0,73 persen.
Secara keseluruhan, sentimen negatif pasar tercermin dari jumlah emiten yang melemah.
Tercatat sebanyak 583 saham mengalami koreksi, sementara hanya 118 saham yang mampu bertahan di zona hijau.
Sebanyak 89 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Total volume perdagangan di BEI mencapai 41,53 miliar saham.
Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 17,97 triliun.
Dominasi tekanan jual dari investor domestik menjadi faktor utama yang menekan IHSG meski terdapat dukungan dari aksi beli asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi saham yang paling banyak diborong asing dengan nilai net buy mencapai Rp 1,41 triliun.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyusul di posisi kedua dengan nilai net buy Rp 257,32 miliar.
PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan net buy sebesar Rp 246,55 miliar.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menarik minat asing dengan nilai beli bersih Rp 119,15 miliar.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan angka Rp 80,82 miliar.
Selanjutnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatat net buy Rp 30,2 miliar.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) di posisi ketujuh dengan nilai Rp 24,74 miliar.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat angka Rp 23,55 miliar.
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) berada di urutan kesembilan dengan nilai Rp 17,9 miliar.
PT Astra International Tbk (ASII) melengkapi daftar sepuluh besar dengan net buy Rp 15,8 miliar.



















