Perusahaan Hashim dan Indosat Garap Infrastruktur AI Rp 3,8 Triliun

persen

Perusahaan Hashim dan Indosat Garap Infrastruktur AI Rp 3,8 Triliun

Jakarta – Indonesia mulai mengambil langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan teknologi dengan membangun infrastruktur manufaktur chip dan kabel bawah laut guna mendukung ekosistem kecerdasan artifisial (AI).

Upaya ini diinisiasi oleh PT Infra Fiber Teknologi (IFT), sebuah perusahaan infrastruktur digital yang merupakan hasil kolaborasi antara Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo dengan PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison).

Pengembangan infrastruktur ini dijalankan melalui platform bernama RAIA Grid yang telah memiliki jaringan serat optik sepanjang 86.000 kilometer.

Jaringan tersebut berfungsi sebagai tulang punggung digital yang menghubungkan berbagai pusat data, operator telekomunikasi, hingga penyedia layanan digital di seluruh Indonesia.

Deputy CEO dan COO Arsari Group, Aryo Djojohadikusumo, menyatakan bahwa lonjakan kebutuhan infrastruktur digital saat ini dipicu oleh pesatnya perkembangan AI dan pusat data.

Menurutnya, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan jaringan fiber, melainkan harus mulai membangun manufaktur komponen inti di dalam negeri.

“Ambisi kami bukan hanya sekadar menghubungkan. Kami ingin memenuhi semua kebutuhan ini dan mulai membangun komponen-komponen infrastrukturnya di Indonesia,” ujar Aryo dikutip dari pernyataan resmi saat peluncuran RAIA Grid, Rabu (26/8/2026).

Salah satu target utama IFT adalah memulai perakitan GPU (Graphic Processing Unit) secara lokal di Indonesia.

Proses perakitan perangkat keras tersebut direncanakan mulai berjalan pada Desember 2026.

Fasilitas produksi ini akan dibangun melalui kemitraan antara RAIA Grid dan Indosat dengan dukungan teknis langsung dari Nvidia.

GPU merupakan komponen vital dalam pengembangan AI karena kemampuannya memproses data dalam volume besar secara efisien.

Pabrik perakitan yang berlokasi di sekitar Jakarta tersebut diproyeksikan mampu memproduksi 140 hingga 150 unit GPU H300.

Selain itu, perusahaan juga fokus pada pemanfaatan GPU B300 atau Blackwell Ultra yang dirancang khusus untuk memproses beban kerja AI kompleks, seperti large language model (LLM).

Di samping sektor semikonduktor, RAIA Grid juga tengah menyiapkan proyek kabel bawah laut untuk meningkatkan konektivitas internasional Indonesia.

Director of Finance RAIA Grid, Hendra Purnama, merinci alokasi anggaran belanja modal atau capex untuk sektor semikonduktor mencapai US$22 juta atau setara Rp389,6 miliar.

Sementara itu, untuk tahap pertama proyek kabel bawah laut, perusahaan menyiapkan investasi sebesar US$192 juta atau sekitar Rp3,4 triliun.

“Untuk semikonduktor sekitar US$ 22 juta. Untuk subsea, kita ada tiga panel. Yang pertama sekitar US$ 192 juta,” kata Hendra dikutip dari keterangan pers perusahaan, Rabu (26/8/2026).

Secara keseluruhan, investasi untuk kedua komponen tersebut mencapai angka Rp3,8 triliun, meski nilai total proyek RAIA Grid belum diungkapkan secara rinci.

Hendra menegaskan bahwa pengembangan manufaktur semikonduktor bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok teknologi AI global.

Langkah ini diambil agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai konsumen teknologi, tetapi juga memiliki kapabilitas produksi mandiri.

Pembangunan jaringan kabel bawah laut juga dianggap krusial untuk memfasilitasi pertukaran data masif antarnegara.

Jaringan serat optik sepanjang 86.000 kilometer yang dikembangkan RAIA Grid diposisikan sebagai “jalan tol digital” nasional.

Infrastruktur ini diharapkan mampu mendukung optimalisasi jaringan 5G, layanan fiber-to-the-home (FTTH), serta konektivitas antarpusat data di Indonesia.

Melalui integrasi antara manufaktur GPU, kabel bawah laut, dan jaringan serat optik, RAIA Grid berupaya menciptakan ekosistem infrastruktur yang komprehensif guna mendorong ekonomi digital nasional.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar