Kondisi Fiskal AS Disorot, Prospek Bitcoin Menarik untuk Dicermati

persen

Kondisi Fiskal AS Disorot, Prospek Bitcoin Menarik untuk Dicermati

Jakarta – Bitcoin (BTC) kini menjadi sorotan utama investor global seiring dengan meningkatnya ketidakpastian fiskal di Amerika Serikat dan rencana pemerintah negara tersebut melakukan buyback obligasi US Treasury.

Data Coin Market Cap per Jumat (28/8/2026) pukul 15.25 WIB mencatat harga Bitcoin berada di level US$ 79.799.

Angka tersebut mencerminkan penguatan sebesar 3,64% dalam sepekan terakhir dan lonjakan 26,11% selama satu bulan terakhir.

Analis Reku, Andri Fauzan, menilai prospek Bitcoin saat ini sangat didukung oleh kondisi ekonomi makro Amerika Serikat.

Ia menyoroti akumulasi utang AS yang telah menembus angka US$ 40 triliun.

Selain itu, defisit anggaran yang tetap tinggi memicu kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli dolar AS.

“Ini memicu debasement trade di mana investor beralih ke aset langka seperti Bitcoin dan emas,” ujar Andri sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Jumat (28/8/2026).

Pemerintah AS berencana menggandakan buyback obligasi jangka panjang menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi mulai September mendatang.

Pasar menafsirkan kebijakan ini sebagai sinyal likuiditas yang melonggar serta upaya pemerintah untuk menekan tingkat imbal hasil (yield).

Andri menilai reli Bitcoin dari kisaran US$ 64.000 menuju di atas US$ 80.000 dalam waktu singkat didorong oleh sentimen tersebut.

Selama kekhawatiran fiskal berlanjut, ia meyakini Bitcoin memiliki dukungan struktural yang kuat.

Senada dengan hal tersebut, Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyebut buyback Treasury sebagai salah satu faktor pendorong perubahan sentimen pasar.

Pasca pengumuman kenaikan nilai buyback pada 19 Agustus lalu, yield obligasi jangka panjang AS terpantau turun dan dolar AS melemah.

Kondisi ini meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko seperti kripto.

Kendati demikian, Aloysia mengingatkan bahwa pengaruh kebijakan tersebut harus dilihat bersamaan dengan faktor lain.

Kebijakan moneter The Fed, arus dana ke ETF spot Bitcoin, serta dinamika likuiditas global tetap menjadi penentu utama.

“Pergerakan Bitcoin tetap perlu dilihat dari kombinasi faktor makro, arus dana, dan kondisi pasar, bukan dari satu sentimen saja,” jelas Aloysia.

Ia juga menyoroti adanya pengaruh short squeeze pada kenaikan harga beberapa hari terakhir.

Oleh karena itu, investor diminta mewaspadai potensi aksi ambil untung yang dapat memicu volatilitas pasar.

Terkait strategi investasi, para pakar menyarankan kedisiplinan dalam manajemen risiko.

Aloysia menyarankan metode Dollar Cost Averaging (DCA) bagi investor yang ingin masuk ke pasar namun tetap mempertimbangkan risiko volatilitas.

Sementara itu, Andri menyarankan investor menghindari perilaku Fear of Missing Out (FOMO) mengingat Fear & Greed Index telah menyentuh fase extreme greed.

Ia memproyeksikan harga Bitcoin hingga akhir tahun berada di rentang US$ 95.000 hingga US$ 110.000.

Bahkan, jika arus masuk ETF tetap kuat, potensi harga menembus US$ 120.000 dinilai masih terbuka lebar.

Namun, ia juga mengingatkan kemungkinan koreksi harga ke kisaran US$ 70.000 – US$ 80.000 jika data makro memburuk atau sentimen pasar berbalik arah.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar