Jakarta – Pemerintah Indonesia menempatkan penguatan ekosistem kecerdasan artifisial (AI), teknologi digital twin, dan pusat data sebagai pilar utama untuk mengakselerasi ekonomi digital nasional.
Langkah strategis ini diproyeksikan menjadi fondasi kuat dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Indonesia kini memegang momentum komersial AI terkuat di kawasan ASEAN.
“Indonesia juga mencatat momentum komersial AI terkuat di ASEAN, dengan pendapatan dari fitur berbasis AI tumbuh 127% secara tahunan pada semester I 2025,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).
Data menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia saat ini telah mendekati angka US$ 100 miliar dalam hal Gross Merchandise Value (GMV).
Capaian tersebut didukung oleh basis pengguna internet yang masif, yakni mencapai 235 juta jiwa dengan tingkat penetrasi sebesar 81 persen.
Pemerintah berencana mengintegrasikan pusat data, AI, dan industri semikonduktor untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Upaya ini mencakup penyiapan 600 ribu tenaga kerja profesional digital setiap tahunnya.
Transformasi AI pun mulai diterapkan secara luas, mulai dari sektor pertanian melalui penggunaan agricultural drones hingga sektor kesehatan dan pemantauan lini produksi baterai kendaraan listrik.
Pemerintah kini berfokus pada tiga pilar utama pengembangan AI, yakni infrastruktur, talenta, dan investasi strategis.
Di sektor infrastruktur, Indonesia tengah mengembangkan kapasitas pusat data dengan target pipeline mencapai 1,17 GW.
Pada aspek talenta, pemerintah menjalankan berbagai program seperti Digital Talent Scholarship dan insentif super tax deduction hingga 200 persen bagi industri yang bergerak di sektor vokasi.
Kolaborasi internasional juga menjadi kunci, termasuk kemitraan dengan Arm Limited untuk melatih 15 ribu insinyur lokal.
Investasi besar juga telah mengalir melalui Joint Development Agreement dengan Amerika Serikat yang bernilai US$ 4,89 miliar untuk kawasan semikonduktor di Galang.
Secara regional, Indonesia aktif mendorong ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang ditargetkan rampung pada November 2026.
“Yang terpenting, bagaimana kita mengubah AI, digital twin, dan teknologi digital menjadi manfaat nyata bagi produktivitas, daya saing, pelayanan publik, serta kualitas hidup masyarakat,” kata Airlangga.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan pentingnya konektivitas sebagai pilar utama transformasi digital.
“Strategi untuk lima tahun ke depan adalah memperkuat pilar pertama, yaitu konektivitas,” ujar Edwin saat menghadiri Konferensi Tahunan Telkom Internasional di Bali, Jumat (28/8).
Pemerintah menargetkan ekonomi digital Indonesia mampu menembus angka US$ 130 miliar per tahun.
Untuk mencapai target tersebut, negara akan berperan sebagai katalisator dalam memperbaiki kegagalan pasar melalui regulasi yang tepat sasaran.
Komitmen investasi besar-besaran di bidang pendidikan juga digenjot untuk memenuhi kebutuhan sembilan juta talenta digital di masa depan.





















