Laba BNBR Melonjak 283% Didorong Bisnis Tol dan Kendaraan Listrik

Kholida Rahman

Laba BNBR Melonjak 283% Didorong Bisnis Tol dan Kendaraan Listrik

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 224,81 miliar sepanjang semester I 2026.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan capaian periode yang sama tahun lalu di mana perseroan masih mengantongi laba bersih senilai Rp 55,87 miliar.

Kinerja keuangan emiten infrastruktur ini tertekan oleh lonjakan beban pokok pendapatan yang mencapai Rp 1,94 triliun atau naik 40,02% secara tahunan (year on year/YoY).

Kendati mengalami rugi bersih, pendapatan perusahaan justru mencatatkan pertumbuhan signifikan.

BNBR berhasil mengumpulkan total pendapatan sebesar Rp 2,59 triliun hingga akhir Juni 2026.

Pencapaian tersebut tumbuh 45,83% dibandingkan pendapatan pada semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp 1,77 triliun.

Peningkatan pendapatan terjadi di seluruh lini bisnis yang dikelola perusahaan.

Segmen infrastruktur dan manufaktur menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 2,23 triliun atau naik 38,35% secara tahunan.

Sektor jasa pabrikasi dan konstruksi mencatatkan pertumbuhan 34,74% menjadi Rp 216,98 miliar.

Peningkatan paling drastis terjadi pada sektor perdagangan, jasa, dan investasi yang melesat 4.536% menjadi Rp 142,97 miliar.

Direktur BNBR Roy Hendrajanto M Sakti menjelaskan bahwa penurunan laba bersih disebabkan oleh beban bunga dari PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

“Khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” ujar Roy dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026) dikutip dari keterangan resmi perusahaan.

Beban bunga tersebut dipengaruhi oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate.

Sebelumnya, BNBR telah merampungkan akuisisi 90% saham operator jalan tol Cimanggis–Cibitung tersebut melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), dengan nilai transaksi total mencapai Rp 9,4 triliun.

Di balik kerugian tersebut, perseroan sebenarnya menunjukkan efisiensi operasional yang membaik.

BNBR berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp 301,53 miliar, yang melonjak 283,21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

EBITDA perusahaan juga tercatat positif sebesar Rp 423,04 miliar, naik 230,93% dari Rp 127,83 miliar pada semester I 2025.

Wakil Direktur Utama sekaligus Co-CEO BNBR, A Ardiansyah Bakrie, menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja perseroan ditopang oleh kenaikan pendapatan sejumlah anak usaha.

PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) membukukan pendapatan bersih Rp 626,78 miliar berkat konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada tahun ini.

Selain itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group mencatatkan pendapatan bersih Rp 646,61 miliar, tumbuh 56,2% yang didorong oleh kenaikan penjualan kendaraan listrik.

PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group turut menyumbang pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun atau tumbuh 10,2% secara tahunan.

Untuk memperkuat struktur permodalan, perseroan telah merampungkan aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) pada akhir Juli 2026.

Dana segar yang berhasil dihimpun melalui skema rights issue tersebut mencapai Rp 4,76 triliun.

Manajemen BNBR optimistis prospek bisnis ke depan tetap terjaga seiring dengan penguatan kondisi keuangan dan portofolio infrastruktur strategis seperti jalan tol dan jaringan pipanisasi migas.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar