Bandung – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik dominasi pasar penerbangan global melalui pesawat N219.
Optimisme ini muncul karena segmen pesawat propeller berkapasitas 19 penumpang memiliki jumlah pemain yang sangat terbatas di skala internasional.
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyatakan bahwa segmen tersebut memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan pesawat di kelas tersebut.
Indonesia sendiri merupakan salah satu pasar penerbangan perintis terbesar di dunia.
Kebutuhan pesawat yang mampu beroperasi di wilayah dengan infrastruktur terbatas menjadi celah pasar yang sangat terbuka lebar.
Keunggulan utama N219 terletak pada penguasaan desain dan produksi yang sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.
Berbeda dengan pesawat terdahulu yang melibatkan kerja sama atau lisensi asing, N219 diklaim sebagai karya murni industri nasional.
“Kalau selama ini kita mengenal CN itu di depannya kan ada C ya, ada CASA. Kalau ini N jadi itu betul-betul 100 persen karya anak bangsa, dan itu tertinggi dari lokal kontennya dan TKDN-nya itu hampir 45 persen,” ujar Gita saat ditemui dalam perayaan HUT ke-50 PTDI di Bandung, Sabtu (29/8), dikutip dari pernyataan resmi perusahaan.
Pengembangan N219 juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat konektivitas di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).
Industri kedirgantaraan tidak sekadar berfungsi sebagai simbol kemajuan teknologi tinggi.
Lebih dari itu, sektor ini diharapkan menjadi penyedia solusi transportasi utama bagi daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat maupun laut.
Dalam rangkaian peringatan setengah abad berdirinya perusahaan, PTDI secara aktif mendorong penguatan ekosistem industri penerbangan nasional.
Langkah ini diwujudkan melalui Simposium Nasional bersama Bappenas pada 24 Agustus 2026 yang membahas peta jalan pengembangan kedirgantaraan Indonesia.
PTDI juga telah meresmikan Training Center bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan.
Fasilitas tersebut difokuskan untuk mencetak tenaga kerja terampil serta melakukan pengujian kompetensi sumber daya manusia di bidang kedirgantaraan.
Penguatan teknologi dan kapabilitas SDM merupakan bagian dari strategi besar perusahaan untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.
“Harapannya adalah sebetulnya kita ingin menunjukkan kepada bangsa kita bahwa kita mampu. Ya, bahwa kita punya industri yang high-tech, industri yang perjalanannya sangat panjang PT DI ini dan insyaallah PT DI dengan semua ekosistem kedirgantaraan nasional kita siap memberikan solusi bagi bangsa ini,” tambah Gita.
Manajemen PTDI turut mengapresiasi dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang pro terhadap industri aviasi.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkokoh posisi industri nasional sekaligus membuka pintu lebar bagi produk Indonesia di kancah internasional.



















