Jakarta – Dolar Australia (AUD) diprediksi menjadi mata uang komoditas dengan performa paling impresif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga penutupan tahun 2026.
Optimisme ini bersandar pada kekuatan harga komoditas ekspor unggulan Australia, terutama emas dan batu bara, serta antisipasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari Reserve Bank of Australia (RBA).
Pasar saat ini mencermati pergerakan harga emas yang sempat bertengger di level US$ 4.454,08 per ons troi, sebagaimana dicatat oleh Trading Economics pada Jumat (28/8/2026).
Sementara itu, harga batu bara menunjukkan ketahanan di level US$ 139,75 per ton, mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,18 persen dalam sehari.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$ 83,44 per barel setelah mengalami koreksi minor sebesar 0,11 persen.
Analis Mata Uang dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai bahwa AUD memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan mata uang komoditas lainnya karena korelasi ganda terhadap komoditas strategis.
“Dolar Australia (AUD) menjadi mata uang yang paling berpotensi mencatatkan penguatan paling signifikan terhadap USD. Faktor pendukung utamanya meliputi korelasi ganda komoditas, yakni emas dan batu bara,” ujar Wahyu, Jumat (28/8/2026).
Menurut Wahyu, posisi Australia sebagai eksportir utama memberikan keuntungan fundamental bagi AUD saat harga komoditas global berada pada level tinggi.
Kinerja ekspor yang solid diproyeksikan mampu menjaga arus devisa dan stabilitas ekonomi domestik, yang secara otomatis memberikan dukungan bagi penguatan mata uang tersebut.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, yang menempatkan AUD sebagai aset paling prospektif di sisa tahun ini.
“Dari ketiganya, saya melihat AUD memiliki potensi penguatan paling besar, terutama karena Australia didukung dari tingginya harga komoditas dan hubungan ekonominya yang kuat dengan Asia,” ungkap Lukman.
Selain faktor eksternal, Lukman menyoroti kebijakan moneter RBA yang cenderung hawkish sebagai katalis utama penguatan AUD.
Ekspektasi kenaikan suku bunga RBA menguat setelah data inflasi Australia tercatat melampaui ekspektasi pasar sebelumnya.
Kebijakan moneter yang lebih ketat ini diyakini akan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar Australia di mata investor global.
Di samping itu, potensi pelemahan dolar AS secara berkelanjutan dipandang sebagai peluang tambahan bagi AUD untuk terus mendaki.
Namun, para analis juga mengingatkan adanya risiko yang dapat menghambat laju penguatan mata uang tersebut di masa depan.
Perlambatan ekonomi di Tiongkok menjadi salah satu variabel yang paling krusial bagi prospek ekspor Australia.
“Risikonya terutama dari China, karena perlambatan ekonomi China dapat menekan permintaan terhadap komoditas Australia,” jelas Lukman.
Selain itu, kebijakan Federal Reserve yang sewaktu-waktu bisa kembali menjadi hawkish akan menjadi ancaman bagi penguatan AUD.
Wahyu memproyeksikan pasangan AUD/USD akan bergerak di rentang 0,7050–0,7350 hingga akhir tahun 2026.
Sementara itu, Lukman mematok target penguatan yang sedikit lebih optimis, yakni di kisaran 0,73–0,74 untuk pasangan AUD/USD.






















