Risiko Hormuz Mereda, Harga Minyak Berpotensi Kembali Terkoreksi

Ikhwan Setiawan

Risiko Hormuz Mereda, Harga Minyak Berpotensi Kembali Terkoreksi

Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan jual pada perdagangan Jumat (28/8/2026).

Pelemahan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan di jalur strategis Selat Hormuz.

Data Trading Economics per pukul 17.32 WIB mencatat harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 83,27 per barel.

Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,31% secara harian dan terkoreksi 4,51% dalam sepekan terakhir.

Kondisi serupa terjadi pada harga minyak Brent yang bertengger di angka US$ 88,30 per barel.

Harga Brent tercatat turun 0,21% secara harian dan tertekan 6,60% jika dihitung dalam kurun waktu sepekan.

Secara bulanan, pergerakan kedua jenis minyak ini menunjukkan divergensi tipis, di mana WTI turun 1,57% sementara Brent naik tipis 0,08%.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai penurunan ini merupakan respons pasar atas meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.

“Penguatan harga minyak saat ini kemungkinan besar bersifat sementara dan rentan terkoreksi, karena pasar tengah merespons ekspektasi de-eskalasi di Selat Hormuz,” ujar Sutopo, Jumat (28/8/2026).

Pernyataan bersama antara Iran dan Oman mengenai pembentukan koridor maritim sementara menjadi katalis utama pelemahan harga saat ini.

Program pembersihan ranjau yang disepakati kedua negara bertujuan untuk memulihkan navigasi yang sempat terancam.

Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi premi risiko geopolitik yang sempat mendongkrak harga minyak dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, Sutopo menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukanlah solusi permanen bagi stabilitas pasokan energi global.

Negosiasi lanjutan masih dijadwalkan berlangsung dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari ke depan.

Selain itu, posisi Amerika Serikat dalam merespons kebijakan Iran tetap menjadi variabel penentu yang krusial bagi arah pasar.

“Risiko pembalikan mendadak ke arah eskalasi tetap tinggi meski tren jangka pendek menunjukkan pelonggaran,” kata Sutopo.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar saat ini juga memantau ketat data persediaan minyak dan produk sulingan di Amerika Serikat.

Kebijakan produksi dari OPEC+ serta posisi cadangan strategis minyak AS yang kini berada di bawah 300 juta barel turut menjadi perhatian serius.

Arah kebijakan suku bunga The Fed juga diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap volatilitas harga minyak hingga penghujung tahun.

Untuk proyeksi akhir tahun 2026, Sutopo memperkirakan harga Brent akan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 95 per barel.

Skenario dasar untuk Brent dipatok pada level US$ 80 per barel.

Sementara itu, harga WTI diproyeksikan akan berada di rentang US$ 70 hingga US$ 88 per barel.

Risiko kenaikan harga tetap terbuka lebar apabila terjadi eskalasi mendadak di Selat Hormuz.

Dalam skenario terburuk di mana gangguan di Hormuz berlanjut hingga tahun 2027, harga Brent berpotensi melonjak hingga menembus US$ 130 per barel.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar