Produksi Sawit RI Terancam Susut 3 Juta Ton, Harga Berpotensi Naik

Ikhwan Setiawan

Produksi Sawit RI Terancam Susut 3 Juta Ton, Harga Berpotensi Naik

Jakarta – Sektor industri minyak sawit Indonesia menghadapi tantangan produksi yang signifikan pada tahun mendatang akibat fenomena iklim El Nino.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan adanya penurunan produksi minyak sawit sebesar tiga juta ton pada 2027.

Estimasi ini merupakan angka revisi setelah sebelumnya sempat diprediksi akan terjadi penurunan yang lebih dalam, yakni mencapai empat hingga lima juta ton.

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menyatakan bahwa revisi tersebut didasarkan pada pemantauan kondisi cuaca terkini di sejumlah sentra perkebunan.

“Produksi masih memungkinkan turun, tetapi sekitar tiga juta ton tahun depan,” kata Eddy sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Jumat (28/8/2026).

Menurut Eddy, beberapa wilayah perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai mendapatkan curah hujan yang cukup sehingga membantu pemulihan kondisi lahan.

Meskipun demikian, ancaman penurunan produksi sebesar tiga juta ton tersebut setara dengan sekitar 5% dari total produksi nasional tahun ini.

Sebagai informasi, Gapki memperkirakan total produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2026 mencapai 56,6 juta ton, angka yang konsisten dengan capaian tahun 2025.

Kendala cuaca panas dan kering yang terjadi sebelumnya juga menyulitkan para petani dalam melakukan pemupukan secara optimal.

Dampak dari terhambatnya proses pemupukan tersebut diprediksi baru akan terlihat secara nyata pada hasil panen di periode tahun depan.

Selain faktor cuaca, tekanan terhadap pasokan global juga dipengaruhi oleh kebijakan hilirisasi di dalam negeri.

Program kewajiban biodiesel 50% atau B50 dipastikan akan menyerap kebutuhan minyak sawit dalam jumlah besar.

Eddy menegaskan bahwa pemerintah dan industri akan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik di atas segalanya.

“Pasokan untuk kebutuhan domestik diprioritaskan, sehingga tidak akan ada masalah terkait hal tersebut,” ujarnya dilansir dari Bloomberg.

Akibat kebijakan prioritas domestik tersebut, volume ekspor minyak sawit Indonesia berpotensi mengalami kontraksi yang cukup signifikan.

Kondisi pasokan yang semakin ketat ini langsung direspons oleh pasar global dengan kenaikan harga komoditas tersebut.

Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menilai revisi proyeksi dari Gapki menjadi katalis utama penguatan harga minyak sawit.

Harga kontrak berjangka minyak sawit untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives sempat mencatatkan kenaikan sebesar 1,2% ke level 4.875 ringgit per ton.

Meski sempat mengalami koreksi tipis, harga bertahan di level 4.859 ringgit per ton pada sesi perdagangan siang hari.

Tren kenaikan ini juga merembet pada komoditas minyak nabati lainnya di pasar internasional.

Minyak kedelai untuk pengiriman Desember di Chicago dilaporkan naik 2,1% menjadi 69,97 sen AS per pon.

Sementara itu, olahan minyak sawit di Dalian Commodity Exchange untuk pengiriman Januari juga menguat 0,6% ke angka 10.109 yuan per ton.

Data Bloomberg menunjukkan premi minyak kedelai terhadap minyak sawit kini berada di kisaran US$ 339 per ton, jauh di atas rata-rata tahunan sebesar US$ 255 per ton.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar