Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.966 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Pelemahan sebesar 0,4% ini terjadi sejalan dengan tren koreksi mayoritas mata uang di kawasan Asia akibat kuatnya tekanan dolar AS.
Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis ke level Rp 17.743 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Penguatan sebesar 0,06% ini terjadi seiring dengan tren positif mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS.
Nilai tukar rupiah melemah 0,38% ke level Rp 17.763 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Pelemahan ini sejalan dengan tren negatif mayoritas mata uang Asia yang tertekan oleh penguatan indeks dolar AS.
Dolar AS bertahan di level tertinggi dua pekan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Investor kini menanti sinyal kebijakan lanjutan, dengan risiko koreksi jika pernyataan bank sentral dinilai kurang agresif dari ekspektasi pasar.
Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif di rentang Rp17.580 hingga Rp17.680 per dolar AS hari ini. Pergerakan mata uang Garuda akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen cadangan devisa domestik serta dinamika kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Rupiah mencatatkan penguatan bulanan pada Agustus 2026, namun secara akumulatif sejak awal tahun masih berada dalam tekanan. Simak analisis mengenai faktor pendorong fluktuasi mata uang dan rekomendasi pilihan valas yang menarik untuk diversifikasi portofolio Anda di tengah ketidakpastian global.
Mata uang komoditas seperti AUD, CAD, dan NZD diprediksi masih memiliki potensi penguatan terhadap USD hingga akhir tahun. Meski prospek jangka panjang positif, investor diimbau tetap selektif dan waspada terhadap volatilitas pasar serta risiko kebijakan moneter global.
Dolar Australia diproyeksikan menjadi mata uang komoditas terkuat terhadap dolar AS hingga akhir tahun, didorong oleh tingginya harga emas dan batu bara serta kebijakan moneter hawkish dari RBA. Optimisme ini didukung oleh kinerja ekspor yang solid meski tetap mewaspadai risiko perlambatan ekonomi.
Nilai tukar rupiah diprediksi melanjutkan tren penguatan hari ini seiring melemahnya indeks dolar AS dan efektivitas kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.620 hingga Rp17.780 per dolar AS dengan memperhatikan dinamika pasar global dan arus modal asing.
Rupiah berhasil menguat ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring melemahnya indeks dolar global. Analisis teknikal mingguan kini menunjukkan potensi penguatan lanjutan bagi mata uang Garuda menuju kisaran Rp17.688 per dolar AS.
Kenaikan harga pulp di China menjadi katalis positif bagi kinerja emiten kertas di tahun 2026. Namun, investor kini mulai bersikap selektif menyambut potensi tekanan harga akibat lonjakan kapasitas produksi global yang diprediksi akan terjadi mulai tahun 2027.
Prospek Sektor Pulp dan Kertas Tetap Positif Meski Mulai Selektif
PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) resmi melunasi utang Kredit Modal Kerja dan Kredit Rekening Koran kepada BCA senilai Rp3 miliar. Langkah ini diambil sebagai upaya manajemen untuk menekan beban bunga, menjaga efisiensi biaya, serta memperkuat struktur permodalan perusahaan secara lebih prudent.
Harta Djaya (MEJA) Lunasi Utang Kredit Modal Kerja ke BCA
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 15,48% pada semester I 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh rekor produksi panas bumi yang mencapai 3.222 GWh serta peningkatan pendapatan yang signifikan dari keandalan operasional pembangkit.
Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 15,48% Berkat Rekor Produksi
IHSG ditutup menguat tipis 0,03% ke level 6.038,989 pada perdagangan sesi pertama hari ini. Kenaikan indeks ditopang oleh sektor properti, dengan saham SCMA, AKRA, dan AADI memimpin deretan top gainers di jajaran LQ45.
IHSG Menguat Tipis, SCMA hingga AADI Pimpin Deretan Top Gainers