Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menghadapi tekanan koreksi pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Potensi pelemahan ini muncul setelah indeks sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,11% ke level 6.525,48 pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026).
Meskipun berakhir di zona hijau, pergerakan indeks sepanjang sesi sebelumnya didominasi oleh tekanan jual yang sempat membawa IHSG ke wilayah negatif.
Technical Analyst Binnartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyatakan bahwa pergerakan indeks saat ini sedang berada dalam fase pengujian level krusial.
“IHSG menguji support terdekat di 6.435,” ujar Ivan dalam analisisnya, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan bahwa jika level support tersebut tidak mampu menahan tekanan jual, indeks berisiko melanjutkan koreksi lebih dalam.
“Jika support ditembus, koreksi diperkirakan berlanjut menuju 6.361 atau bahkan 6.298 pada hari ini,” ungkap Ivan.
Menyikapi kondisi pasar tersebut, pelaku pasar disarankan untuk mencermati sejumlah emiten yang memiliki potensi pergerakan menarik dengan strategi beli saat melemah atau buy in weakness.
Salah satu emiten yang disoroti adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Saham AADI dinilai berpotensi memulai pembalikan tren dengan catatan resisten Fibonacci di level Rp 11.100 tetap bertahan.
“Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish,” jelas Ivan.
Investor disarankan melakukan buy in weakness pada rentang harga Rp 9.550 hingga Rp 9.700 dengan level support di Rp 9.400 serta resistance pada Rp 11.000 dan Rp 11.800.
Di sisi lain, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) diproyeksikan masih berada dalam fase koreksi karena harga penutupan harian masih tertahan di bawah garis SMA-20.
Kondisi teknikal ini diperkuat oleh indikator MACD yang menunjukkan adanya momentum bearish.
Untuk BRPT, strategi buy in weakness direkomendasikan pada rentang Rp 1.540 hingga Rp 1.630 dengan support di Rp 1.535 serta resistance di level Rp 1.900, Rp 2.050, dan Rp 2.330.
Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga diperkirakan akan melanjutkan tren penurunan menuju level Rp 400.
Faktor penyebabnya adalah posisi harga penutupan harian yang masih berada di bawah garis SMA-20 dan momentum bearish pada indikator MACD.
Bagi investor yang berminat, strategi speculative buy dapat diterapkan pada rentang harga Rp 390 hingga Rp 404 dengan support di Rp 386 serta resistance di Rp 484 dan Rp 515.
Terakhir, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga menjadi perhatian dengan potensi koreksi mencapai target moderat di level Rp 955.
Hal ini dapat terjadi apabila grafik harian masih terus bergerak di bawah garis SMA-20 dengan dukungan momentum bearish pada indikator MACD.
Rekomendasi untuk PGEO adalah buy in weakness pada rentang Rp 910 hingga Rp 960, dengan tingkat support Rp 910 serta resistance di angka Rp 1.070, Rp 1.180, dan Rp 1.260.

















