Wall Street Melemah Terseret Lonjakan Harga Minyak Global

persen

Wall Street Melemah Terseret Lonjakan Harga Minyak Global

New York – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, menutup perdagangan hari Senin (31/8/2026) di zona merah, menandai akhir bulan Agustus yang penuh dengan volatilitas tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami koreksi sebesar 374,09 poin atau setara dengan 0,70% ke level 53.185,90.

Indeks S&P 500 juga tertekan dengan pelemahan 25,62 poin atau 0,33% hingga menetap di posisi 7.686,14.

Indeks Nasdaq Composite turut mengikuti tren serupa dengan penurunan 31,53 poin atau 0,12% ke angka 26.370,89.

Sentimen negatif pasar dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar mengenai potensi lonjakan inflasi sistemik.

Kondisi tersebut memperbesar peluang bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih agresif melalui kenaikan suku bunga.

Ketegangan geopolitik yang berlarut-larut serta ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi katalis utama dalam ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Teheran masih berupaya mencari solusi melalui jalur perundingan.

Upaya tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan pasca penerapan sanksi ekonomi berat oleh Presiden AS, Donald Trump.

Di sisi lain, investor tengah mencerna pernyataan bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang disampaikan pada Simposium Jackson Hole, Jumat (28/8/2026).

Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia, menyatakan bahwa pasar saat ini lebih condong pada kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan September.

“Kami mendengar pernyataan Warsh pekan lalu, dan peluang saat ini lebih condong pada kenaikan suku bunga di bulan September,” ujar Peter Tuz dikutip dari laporan pasar, Selasa (1/9/2026).

Tuz menambahkan bahwa kondisi geopolitik di Timur Tengah menambah lapisan risiko yang membuat investor enggan melakukan aksi beli saham secara agresif.

Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, pasar keuangan saat ini mengantisipasi peluang lebih dari 65% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.

Paul Nolte, penasihat kekayaan senior dan ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest, menyebut bahwa pasar sudah mulai memposisikan diri terhadap skenario tersebut.

“Jika mereka tidak menaikkan suku bunga pada bulan September, menurut saya pasar akan bereaksi secara drastis karena selama ini pasar sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga tersebut,” ungkap Paul Nolte dalam analisisnya.

Meskipun penutupan akhir bulan mengalami pelemahan, ketiga indeks utama AS tetap mencatatkan performa positif secara bulanan.

Indeks Nasdaq mencatatkan pertumbuhan persentase terbesar selama Agustus berkat ketahanan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, indeks Dow Jones berhasil mempertahankan kenaikan bulanan selama lima bulan berturut-turut.

Di sektor energi, saham Halliburton dan Valero Energy masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,9% sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak.

Sebaliknya, sektor utilitas mengalami tekanan berat, terutama saham PG&E yang anjlok 20,1% akibat sentimen regulasi di California.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar