Jakarta – Sektor pertambangan batubara di Indonesia mencatatkan kinerja keuangan yang impresif sepanjang semester I-2026.
Lonjakan harga komoditas di pasar global menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih para emiten di industri ini.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi salah satu perusahaan yang mencatatkan performa signifikan.
Emiten pelat merah ini melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 7,73% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 22,03 triliun.
Lebih jauh, laba bersih PTBA melonjak drastis hingga 218,10% yoy menjadi Rp 2,65 triliun pada periode yang sama.
Tren serupa dialami oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 188,34% yoy menjadi US$ 58,85 juta.
Pendapatan BUMI juga terkerek naik 27,85% yoy menjadi US$ 866,75 juta.
Tidak ketinggalan, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turut membukukan pendapatan sebesar US$ 2,55 miliar atau naik 6,25% yoy.
Laba bersih AADI tumbuh 10,52% yoy menjadi US$ 473,77 juta.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa penguatan harga batubara global di atas level US$ 120 per ton sejak Maret 2026 menjadi faktor penentu.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi pemicu utama stabilitas harga tersebut yang berdampak langsung pada average selling price (ASP) perusahaan.
“Kenaikan laba di atas rata-rata lebih mencerminkan kombinasi antara harga jual, volume, efisiensi, dan kualitas aset tambang,” ujar Nafan, Selasa (1/9/2026).
Selain faktor eksternal, efisiensi operasional dan optimalisasi bauran penjualan turut menjaga margin keuntungan emiten.
Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, optimistis kinerja cemerlang akan berlanjut hingga akhir tahun 2026.
Revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) diproyeksikan membuka ruang bagi peningkatan volume produksi di semester II-2026.
Wafi juga menyoroti potensi penyesuaian harga Domestic Market Obligation (DMO) yang dapat memperbaiki bauran ASP secara signifikan.
“Permintaan energi, termasuk batubara, untuk kebutuhan AI (Artificial Intelligence) secara struktural juga kuat,” kata Wafi dikutip dari pernyataan resminya, Selasa (1/9/2026).
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal, Kiswoyo Adi Joe, memproyeksikan permintaan ekspor akan terus menanjak menjelang akhir tahun.
Negara-negara empat musim mulai mempertebal cadangan energi mereka untuk mengantisipasi kebutuhan selama musim dingin.
Kiswoyo menilai emiten dengan skala produksi besar dan struktur biaya yang efisien akan menjadi pemenang di pasar.
Ia merekomendasikan saham seperti ADRO, ADMR, ITMG, dan PTBA untuk dicermati investor hingga tutup tahun.
Sedangkan Wafi menyarankan investor untuk mempertimbangkan PTBA, AADI, dan ADRO dengan alasan spesifik masing-masing perusahaan.
PTBA dinilai unggul dalam optimalisasi kuota DMO dan yield dividen, sementara AADI memiliki keunggulan pada kualitas batubara premium.
Di sisi lain, Nafan merekomendasikan strategi trading untuk saham BUMI dengan target harga Rp 224 per saham dan INDY di level Rp 3.330 per saham.





















