Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif dengan ditutup menguat sebesar 74,47 poin atau 1,14% ke level 6.599 pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah arus pelemahan yang mayoritas melanda bursa saham di kawasan Asia.
Kuatnya fundamental ekonomi domestik menjadi pendorong utama di balik reli indeks tersebut.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah menjadi katalis utama penguatan IHSG.
Optimisme investor meningkat setelah pemerintah menetapkan target defisit anggaran untuk tahun 2027 pada level 2,40%.
Tingkat defisit yang terkendali ini dinilai menunjukkan kredibilitas fiskal yang solid di mata para pelaku pasar modal.
Selain stabilitas fiskal, realisasi kinerja anggaran negara periode Januari hingga Juli 2026 juga menunjukkan tren ekspansif.
Laporan menunjukkan pendapatan negara tumbuh sebesar 21,3% secara tahunan atau year-on-year.
Di saat yang sama, belanja negara turut mencatatkan kenaikan sebesar 18,2% secara tahunan.
Kondisi neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus juga memberikan sentimen tambahan bagi investor.
Mengenai inflasi, angka tahunan tercatat berada di level 3,19% pada Agustus 2026.
Meskipun realisasi inflasi sedikit melampaui estimasi awal, angka tersebut diklaim masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Melihat dinamika tersebut, IHSG diprediksi masih memiliki momentum untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (2/9/2026).
Nico memproyeksikan rentang pergerakan indeks akan berada pada level 6.560 hingga 6.640.
“Ruang penguatan masih terbuka, dengan kisaran IHSG berada di level 6.560-6.640 pada perdagangan Rabu,” ungkap Nico saat memberikan keterangan, Selasa (1/9/2026).
Namun, investor tetap diingatkan untuk mewaspadai berbagai sentimen global yang masih membayangi pasar.
Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia.
Dampak dari lonjakan harga komoditas energi tersebut memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global.
Pasar kini mengantisipasi adanya kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif sebagai respons terhadap tekanan inflasi tersebut.
Sentimen negatif dari eksternal ini berpotensi membatasi ruang gerak indeks saham dalam jangka pendek.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham di tengah fluktuasi pasar global.
Beberapa sektor dinilai masih memiliki prospek yang cukup menjanjikan untuk dicermati.
Nico secara spesifik menyebutkan bahwa sektor energi, properti, basic industry, dan transportasi adalah sektor yang cukup menarik.
“Sektor energi, properti, basic industry, dan transportasi masih menjadi sektor yang menarik untuk dicermati di tengah peluang penguatan IHSG,” terang Nico menutup keterangannya.


















