Jakarta – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menunjukkan ketahanan fundamental bisnis yang solid sepanjang semester I 2026, ditandai dengan kenaikan laba bersih perusahaan sebesar 2,01% secara tahunan (year on year) menjadi Rp 1,91 triliun.
Peningkatan profitabilitas ini terjadi di tengah penurunan total pendapatan sebesar 6% menjadi Rp 13,11 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 13,94 triliun.
Analis menilai penurunan headline revenue tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya kontribusi dari sektor konstruksi yang memiliki margin keuntungan rendah.
Sebaliknya, bisnis inti perusahaan yakni pendapatan jalan tol justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,8% menjadi Rp 9,5 triliun.
Pendapatan usaha lainnya juga menunjukkan kinerja impresif dengan kenaikan mencapai 17,6% menjadi Rp 798,2 miliar.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A Purwantono, menyatakan bahwa EBITDA perseroan berhasil menyentuh angka Rp 7,0 triliun atau naik 8,1% dengan margin yang stabil di level 67,8%.
“Capaian EBITDA ini memperkuat kapasitas perseroan dalam menghasilkan arus kas yang solid untuk memenuhi kewajiban finansial, sekaligus mendukung agenda investasi dan ekspansi usaha secara berkelanjutan,” ujar Rivan dikutip dari laporan resmi perusahaan, Selasa (1/9/2026).
Rivan menambahkan, kinerja semester pertama ini mencerminkan tingginya kepercayaan pengguna jalan tol terhadap pelayanan perusahaan.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menjelaskan bahwa perbaikan kualitas pendapatan Jasa Marga terlihat dari kenaikan margin kotor menjadi 46,6% dari sebelumnya 40%.
“Pertumbuhan laba kali ini lebih banyak ditopang oleh perbaikan revenue mix dan operating leverage, bukan hanya faktor non-operasional,” kata Ester, Selasa (1/9/2026).
Menurut Ester, bisnis konstruksi yang menyumbang pendapatan Rp 2,8 triliun hampir seluruhnya terserap oleh beban konstruksi, sehingga penurunan aktivitas di sektor tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap laba bersih perusahaan.
Senada dengan hal tersebut, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyoroti keberhasilan perusahaan dalam memonetisasi kenaikan tarif tol serta optimalisasi ruas baru seperti Jasamarga Jogja–Solo seksi 1.2A.
“Peningkatan laba bersih menunjukkan kemampuan JSMR memonetisasi kenaikan tarif sekaligus mempertahankan margin,” ujar Sukarno, Selasa (1/9/2026).
Ke depan, para analis memproyeksikan kinerja semester II 2026 akan lebih baik, didukung oleh pertumbuhan volume lalu lintas dan penyesuaian tarif tol yang terjaga.
Selain itu, potensi optimalisasi aset melalui inisiatif Danantara dinilai menjadi katalis jangka menengah yang dapat mempercepat proses deleveraging atau pengurangan beban utang perusahaan.
Meskipun demikian, beban utang yang mencapai Rp 73,4 triliun beserta biaya bunga tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai oleh investor.
Hingga akhir Juni 2026, total beban keuangan perusahaan tercatat mencapai Rp 1,79 triliun, sedikit meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp 1,75 triliun.
Terlepas dari tantangan tersebut, prospek bisnis jalan tol dinilai tetap defensif di tengah pertumbuhan aktivitas ekonomi nasional.

















