AI Kuasai Live Ecommerce, Biaya Lebih Murah Dibanding Host Manusia

Rayhan Akhari

AI Kuasai Live Ecommerce, Biaya Lebih Murah Dibanding Host Manusia

Jakarta – Teknologi kecerdasan artifisial atau AI kini mulai mendominasi lanskap bisnis live commerce di Asia Tenggara, menawarkan efisiensi biaya yang signifikan bagi para pelaku usaha.

Penggunaan host berbasis AI terbukti jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan mempekerjakan tenaga manusia untuk memandu siaran langsung penjualan.

Laporan terbaru dari perusahaan modal ventura asal Singapura, Momentum Works, mengungkapkan bahwa biaya operasional untuk AI livestream hanya berkisar antara 20% hingga 25% dari biaya yang dibutuhkan untuk host manusia.

“AI live dimulai dengan keunggulan biaya struktural,” tulis Momentum Works dalam laporan bertajuk Live Commerce in Southeast Asia 2026, Rabu (9/9/2026).

Kesenjangan performa antara teknologi AI dan manusia pun semakin menipis seiring dengan pesatnya perkembangan model video AI.

Dalam sejumlah kasus di Asia Tenggara, nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) per jam dari live streaming berbasis AI tercatat mencapai 80% dari perolehan host manusia.

Bahkan, pada beberapa sesi siaran langsung tertentu, performa AI mampu melampaui capaian manusia hingga mencapai 110%.

Efisiensi ini memberikan peluang bagi merek dagang untuk memperpanjang durasi siaran mereka tanpa harus terbebani biaya tenaga kerja yang tinggi.

Momentum Works memprediksi bahwa titik balik di mana AI sepenuhnya menyamai atau bahkan melampaui ekonomi livestream manusia akan terjadi lebih cepat dari perkiraan semula.

Perubahan ini sangat krusial mengingat content commerce kini menjadi motor penggerak utama dalam ekosistem perdagangan digital di Asia Tenggara.

Nilai transaksi bruto dari content commerce di kawasan ini diproyeksikan mencapai US$ 77,9 miliar atau sekitar Rp 1.373,4 triliun pada akhir tahun 2026.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 57% secara tahunan (year on year).

Dominasi konten dalam ekosistem e-commerce terlihat jelas dari porsi transaksi yang dihasilkan.

Pada semester pertama tahun 2026, siaran langsung, video pendek, dan afiliasi konten menyumbang 37% dari total GMV e-commerce di Asia Tenggara.

Angka ini terus mengalami peningkatan dari 32% pada tahun 2025 dan 20% pada tahun 2024.

Meskipun potensi pertumbuhan sangat menjanjikan, Momentum Works memberikan peringatan terkait tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) yang mulai menipis.

Persaingan yang semakin ketat membuat kemampuan menjalankan live commerce bukan lagi menjadi keunggulan kompetitif yang unik karena teknologi tersebut kini mudah diakses oleh semua pihak.

Para pelaku usaha diimbau untuk tidak menjadikan live commerce sebagai satu-satunya strategi pemasaran mereka.

Momentum Works menyarankan agar brand memandang perdagangan berbasis konten sebagai sebuah portofolio yang mencakup video pendek, afiliasi, dan ulasan.

Strategi ini dinilai lebih efektif untuk menciptakan permintaan sebelum transaksi terjadi, alih-alih hanya mengandalkan konversi langsung dari siaran langsung.

Meskipun pola perkembangan di China sering dijadikan acuan, laporan tersebut menekankan bahwa strategi tersebut tidak bisa diadopsi secara mentah-mentah.

Dinamika kreator lokal, perilaku konsumen, dan ekonomi kanal yang unik di setiap negara Asia Tenggara menuntut pendekatan yang lebih adaptif.

Tantangan utama bagi perusahaan saat ini adalah menentukan faktor pembeda yang mampu bertahan di tengah kemudahan akses teknologi operasional yang dimiliki oleh para pesaing.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar