Daftar Saham PER Terendah dan Tertinggi LQ45, MBMA-MDKA Jadi Sorotan

persen

Daftar Saham PER Terendah dan Tertinggi LQ45, MBMA-MDKA Jadi Sorotan

Jakarta – Pasar modal Indonesia mencatatkan aktivitas perdagangan yang dinamis pada Selasa, 8 September 2026, dengan lonjakan signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar dan berharga tinggi.

Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami peningkatan yang cukup tajam, mencapai Rp15,8 triliun dibandingkan dengan nilai transaksi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp13,7 triliun.

Meski terjadi aksi jual bersih oleh investor asing dari sisi volume sebanyak 650,1 juta saham, secara nilai, investor asing justru mencatatkan beli bersih sebesar Rp398,2 miliar.

Kinerja positif ini didorong oleh penguatan harga pada sejumlah emiten unggulan, terutama di sektor komoditas dan bahan baku.

PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) menjadi salah satu penampil terbaik di kelompok indeks LQ45 dengan kenaikan harga sebesar 4,13 persen.

Saham INKP ditutup di level Rp9.450 per lembar, sekaligus memegang rekor sebagai emiten dengan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) terendah dari daftar 20 saham yang dipantau, yakni berada di angka 0,40 kali.

Di sektor yang sama, PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) juga mencatatkan performa impresif dengan kenaikan sebesar 3,03 persen, ditutup pada harga Rp2.380 per saham.

Sementara itu, sektor pertambangan dan material baterai menunjukkan pergerakan yang sangat agresif dibandingkan emiten lainnya.

PT Merdeka Battery Materials (MBMA) memimpin penguatan di antara 20 saham gabungan yang dipantau dengan lonjakan harga mencapai 9,80 persen.

Tren positif juga diikuti oleh PT Merdeka Copper Gold (MDKA) yang menguat 8,33 persen serta PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang naik 5,90 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Data Kontan dan RTI pada 8 September 2026, beberapa saham lainnya seperti PT Bumi Resources (BUMI) dan PT United Tractors (UNTR) juga turut memberikan kontribusi positif dengan kenaikan masing-masing sebesar 2,73 persen dan 2,27 persen.

Di sisi lain, tidak semua saham mencatatkan kenaikan, dengan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami koreksi terbesar di kelompok LQ45 sebesar 1,02 persen.

PT Aneka Tambang (ANTM) terpantau stagnan di harga Rp3.080, sementara PT Darma Henwa (DEWA) dan PT Barito Pacific (BRPT) mengalami pelemahan tipis pada penutupan sesi perdagangan.

Analis pasar modal mencatat bahwa pergerakan harga saham saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen pembagian dividen interim tahun buku 2026.

Investor terlihat mulai mengakumulasi saham-saham yang memiliki potensi pembagian laba jumbo di tengah musim pembagian dividen yang tengah berlangsung.

Rasio price earning ratio (PER) dan PBV tetap menjadi indikator utama bagi pelaku pasar dalam menentukan valuasi harga saham terhadap laba bersih dan aset bersih perusahaan.

Kondisi likuiditas yang meningkat ini menunjukkan kepercayaan investor yang masih terjaga terhadap fundamental perusahaan-perusahaan besar di bursa domestik, meskipun terdapat tekanan jual dari sisi volume oleh investor asing.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar