Jakarta – Para investor kini mulai memusatkan perhatian pada potensi pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026 seiring dengan semakin ramainya emiten yang memberikan sinyal distribusi laba.
Tren pembagian dividen interim tahun ini terlihat lebih progresif dengan beberapa emiten perbankan besar yang telah merealisasikan kewajiban mereka kepada pemegang saham.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan langkah agresif dengan menyalurkan dividen interim dua kali sepanjang tahun ini.
Perusahaan telah mendistribusikan Rp 20 per saham pada Juni dan menyusul Rp 25 per saham pada Agustus, sehingga total dividen interim mencapai Rp 45 per saham.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turut mengambil langkah serupa dengan menetapkan dividen interim sebesar Rp 66 per saham, yang secara total bernilai sekitar Rp 6,16 triliun.
Sektor di luar perbankan pun ikut meramaikan musim dividen, salah satunya PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang menyiapkan dana sebesar Rp 793,8 miliar atau setara Rp 30 per saham.
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) masih bersikap hati-hati terkait rencana pembagian dividen interim tahun ini.
Head of Corporate Investor Relations ASII Tira Ardianti menyatakan bahwa manajemen masih harus mempertimbangkan berbagai aspek fundamental sebelum mengambil keputusan.
“Jika posisi keuangan memungkinkan dan memperoleh persetujuan dewan komisaris, manajemen dapat memutuskan pembagian dividen interim,” ujar Tira dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Di sisi lain, PT United Tractors Tbk (UNTR) memberikan sinyal yang lebih pasti terkait konsistensi pembagian dividen mereka.
Sekretaris Perusahaan UNTR Ari Setiyawan menegaskan bahwa perseroan akan tetap mengikuti pola historis dalam kebijakan pembagian laba.
“UNTR selalu memberikan dividen interim dan final,” jelas Ari.
Kebijakan ini menjadi perhatian khusus investor mengingat kinerja laba bersih UNTR pada semester I-2026 sempat mengalami tekanan sebesar 88,2% secara tahunan.
Head of Research KISI Muhammad Wafi menilai bahwa musim dividen interim biasanya mencapai periode tersibuk pada Agustus hingga Oktober.
Menurut Wafi, sektor tambang emas dan perkebunan kelapa sawit (CPO) memiliki peluang paling terbuka untuk membagikan dividen tahun ini.
Senada dengan hal tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memproyeksikan puncak musim dividen akan terjadi pada Oktober hingga November.
Liza menyoroti emiten CPO seperti TAPG, LSIP, DSNG, dan AALI sebagai saham yang menarik dicermati karena dukungan harga komoditas yang kuat.
Namun, Liza memberikan peringatan keras agar investor tidak terjebak hanya pada besaran dividend yield.
“Investor sebaiknya tidak mengejar saham hanya karena dividend yield,” tegas Liza.
Ia menyarankan strategi akumulasi bertahap sebelum musim dividen semakin intensif di akhir tahun, dengan tetap memperhatikan rekam jejak distribusi dan visibilitas laba perusahaan.

















