Rahayu Saraswati Ungkap Potensi Besar Kelas Menengah di Industri Kreatif

Ikhwan Setiawan

Rahayu Saraswati Ungkap Potensi Besar Kelas Menengah di Industri Kreatif

Jakarta – Kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) berbasis tradisi dan narasi lokal kini diposisikan sebagai pilar strategis baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ancaman disrupsi teknologi.

Pergeseran paradigma ini menempatkan sektor kebudayaan dan konten kreatif bukan lagi sekadar instrumen hiburan semata, melainkan aset ekonomi bernilai tinggi yang mampu menggantikan ketergantungan pada sektor manufaktur konvensional.

Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia, Rahayu Saraswati, menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar negara konsumen menjadi pemain utama soft power di kancah global melalui optimalisasi IP lokal.

“Kekayaan IP lokal berpotensi besar membawa Indonesia bertransformasi dari negara konsumen menjadi pemain utama soft power di tingkat global,” ujarnya dikutip dari The Boardroom by Katadata, Sabtu (12/9/2026).

Potensi besar tersebut harus didukung oleh kebijakan yang komprehensif guna menghadapi tantangan otomatisasi yang mengancam sektor industri tradisional.

Menurut Rahayu, lompatan ekonomi melalui jalur kebudayaan memerlukan sinergi konkret antara pemerintah dan pelaku sektor swasta.

Salah satu langkah krusial yang harus diambil adalah pembentukan lembaga pengelola ekspor budaya yang bersifat independen.

Lembaga ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam mempromosikan dan mendistribusikan karya kreatif anak bangsa ke pasar internasional secara sistematis.

Selain aspek kelembagaan, akses pembiayaan yang berkelanjutan menjadi syarat mutlak bagi para kreator untuk menjaga produktivitas dan inovasi mereka.

Tanpa adanya dukungan finansial yang terukur dan berkelanjutan, potensi ekonomi dari narasi-narasi lokal akan sulit untuk dikomersialisasikan secara masif dan kompetitif.

Pengembangan ekosistem pendukung ini menjadi agenda mendesak agar kekayaan budaya tidak hanya berhenti pada pelestarian, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap produk domestik bruto.

Strategi jangka panjang untuk menjadikan kebudayaan sebagai pilar ekonomi nasional memerlukan peta jalan yang jelas antara pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan industri.

Diskusi mendalam mengenai tantangan dan strategi konkret untuk mewujudkan ambisi ini telah dibahas lebih lanjut dalam episode terbaru program The Boardroom yang dipandu oleh Mulya Amri dan Rezza Aji Pratama.

Fokus utama dari pembahasan tersebut adalah bagaimana membangun infrastruktur ekosistem yang mampu mengonversi nilai sejarah dan tradisi menjadi nilai ekonomi yang dapat diukur secara global.

Keberhasilan Indonesia dalam mengekspor budaya akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi dengan narasi lokal yang autentik.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor kebudayaan diproyeksikan mampu menjadi ‘energi terbarukan’ yang tahan terhadap fluktuasi ekonomi global di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar