Jakarta – Pasar aset kripto global mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (11/9/2026).
Koreksi harga terjadi seiring dengan sikap investor yang cenderung berhati-hati dalam merespons berbagai indikator ekonomi utama dari Amerika Serikat.
Data dari CoinMarketCap mencatat Bitcoin diperdagangkan pada kisaran US$ 76.780, yang merepresentasikan penurunan sebesar 1,59% dalam periode 24 jam terakhir.
Secara akumulatif dalam satu pekan terakhir, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini telah terkoreksi hingga 5,47%.
Kondisi serupa dialami oleh Ethereum yang berada di level US$ 2.452, dengan penurunan 0,51% dalam 24 jam dan 2,16% selama sepekan.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menyatakan bahwa dinamika ekonomi global saat ini memegang peranan krusial dalam memengaruhi sentimen pasar kripto.
Menurutnya, investor tengah memusatkan perhatian pada data ekonomi Amerika Serikat seperti Consumer Price Index (CPI) dan Non-Farm Payrolls (NFP).
Data tersebut dipantau ketat karena menjadi acuan utama dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
“Dicermatinya data seperti Consumer Price Index (CPI), Non-Farm Payrolls (NFP), dan keputusan Federal Reserve menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah suku bunga,” ujar Ryan dikutip dari keterangan resmi Bittime, Jumat (11/9/2026).
Ketidaksesuaian antara data ekonomi aktual dengan proyeksi pasar sering kali memicu penyesuaian strategi investasi oleh para pelaku pasar.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter terbukti berdampak langsung pada imbal hasil obligasi, fluktuasi nilai dolar AS, serta minat terhadap aset berisiko.
Riset International Monetary Fund (IMF) tahun 2023 bertajuk “The Crypto Cycle and US Monetary Policy” mengonfirmasi bahwa pengetatan moneter di Amerika Serikat memiliki korelasi kuat terhadap perubahan selera risiko di pasar kripto.
Selain itu, keterkaitan antara pasar kripto dan pasar saham semakin menguat seiring dengan meningkatnya partisipasi investor institusional.
Ryan menambahkan bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap angka kenaikan atau penurunan data ekonomi semata.
Investor lebih cenderung menilai dampak data tersebut terhadap arah kebijakan moneter di masa depan.
“Karena itu, data makro juga menjadi salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi,” tegas Ryan.
Pihaknya menyarankan agar pelaku pasar tidak hanya terpaku pada indikator makroekonomi Amerika Serikat.
Analisis mendalam mengenai aktivitas perdagangan di pasar spot maupun pasar derivatif dinilai sangat penting bagi keberlangsungan investasi.
Berdasarkan laporan CoinMarketCap edisi Agustus 2026, total volume perdagangan global mencapai US$ 4,23 triliun, meningkat 12,3% dibandingkan bulan sebelumnya.
Pasar derivatif mendominasi aktivitas perdagangan dengan porsi mencapai 86,2% atau sekitar US$ 3,65 triliun.
Volume perdagangan derivatif tercatat 6,25 kali lebih besar dibandingkan dengan volume perdagangan spot.
Tingginya aktivitas di pasar derivatif, terutama yang melibatkan penggunaan leverage, menyimpan potensi risiko yang cukup tinggi bagi investor.
Ryan menekankan pentingnya manajemen risiko yang ketat bagi setiap pelaku pasar sebelum mengeksekusi transaksi.
“Setiap produk aset digital memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu memahami cara kerja produk, termasuk penggunaan leverage dan pengelolaan posisi, sebelum melakukan transaksi,” pungkas Ryan.


















