Sejumlah Emiten Ekspansi ke Luar Bisnis Inti, Simak Prospeknya

Rayhan Akhari

Sejumlah Emiten Ekspansi ke Luar Bisnis Inti, Simak Prospeknya

Jakarta – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah gencar melakukan diversifikasi bisnis di luar sektor inti guna memperkuat arus pendapatan dan memitigasi ketergantungan pada satu segmen usaha saja. Tren ekspansi ini melibatkan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, energi, kimia industri, hingga otomotif, yang dilakukan melalui aksi korporasi seperti akuisisi dan pembangunan fasilitas produksi baru.

PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) menjadi salah satu entitas yang merambah sektor kesehatan melalui rencana akuisisi 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon. Emiten ini berencana melakukan private placement untuk mendanai transaksi material tersebut. Di sektor energi, PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) memperluas jaringan bisnisnya dengan mengakuisisi 75% saham PT Aztech Pandu Persada guna memperkuat posisi di bidang pertambangan minyak bumi dan gas alam.

Langkah ekspansif juga dilakukan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang merambah sektor otomotif dengan mengakuisisi bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia. Nilai transaksi aset tersebut diperkirakan mencapai US$ 207 juta. Sementara itu, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) melalui anak usahanya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), akan memulai uji coba operasional pabrik Hidrogen Peroxide (H2O2) di Banten tahun ini. Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pabrik H2O2 terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 40.000 metrik ton per tahun untuk konsentrasi 50%.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turut mempercepat diversifikasi non-batubara dengan merampungkan akuisisi 100% saham perusahaan tambang mineral Australia, Loyal Metals Ltd, senilai Rp 1 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari target perseroan untuk mencapai rasio pendapatan yang seimbang antara sektor batubara dan non-batubara pada 2031.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyatakan bahwa ekspansi di luar bisnis inti dapat menjadi katalis positif apabila mampu menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan. Ia menyoroti bahwa BUMI dan SGER memiliki daya tarik lebih karena diversifikasinya masih memiliki keterkaitan dengan ekosistem bisnis yang sudah ada.

“Namun karena model bisnisnya semakin luas, investor juga perlu melihat seberapa efektif integrasi aset baru tersebut dan kontribusinya terhadap return on capital,” ujar Elandry dikutip dari laporan analisis pasar, Jumat (11/9/2026).

Elandry menambahkan, VISI dan PIPA saat ini masih berada dalam posisi spekulatif karena proses ekspansi yang masih berjalan dan menunggu realisasi kontribusi laba. Senada dengan hal tersebut, Analis Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus, mengingatkan investor untuk mencermati progres pengembangan aset di Loyal Metals milik BUMI. Menurut Revo, pengembangan infrastruktur di lokasi tambang tersebut memerlukan waktu, dengan target kontribusi pendapatan dari Highway Reward Copper-Gold Mine diperkirakan baru akan terasa pada 2028.

Investor disarankan untuk tidak hanya tergiur dengan tren sektor yang sedang berkembang, melainkan menelaah sinergi bisnis, rekam jejak manajemen, serta potensi peningkatan beban utang atau leverage akibat aksi korporasi tersebut. Harga saham pada akhirnya akan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari investasi yang telah dilakukan. Bagi investor yang berminat pada saham BUMI, SGER, maupun TPIA, disarankan untuk tetap memperhatikan level teknikal dan melakukan akumulasi secara cermat di tengah volatilitas pasar.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar