Jakarta – Pelaku pasar modal dalam negeri bersiap menghadapi dinamika perdagangan yang diprediksi akan berlangsung volatil sepanjang pekan 14 hingga 18 September 2026.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan sangat dipengaruhi oleh dua agenda besar berskala global yang berlangsung berdekatan.
Sentimen utama datang dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 16 September mendatang.
Keputusan mengenai arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat tersebut dipastikan akan berdampak signifikan terhadap arus modal global.
Selain itu, proses rebalancing indeks FTSE Russell turut menjadi fokus utama para investor domestik maupun asing.
Penyedia indeks global tersebut telah menetapkan tanggal rebalancing pada Jumat, 18 September 2026, yang akan efektif mulai Senin, 21 September 2026.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa indeks akan bergerak sangat selektif pekan depan.
“Setelah penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir, ruang kenaikan indeks menurut kami mulai lebih terbatas sehingga pergerakan pasar kemungkinan akan semakin selektif,” ujar Rully sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Minggu (13/9/2026).
Rully memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran level 6.300 hingga 6.800 sepanjang pekan perdagangan tersebut.
Di sisi lain, optimisme masih menyelimuti pasar mengingat IHSG telah mencatatkan pemulihan sebesar lebih dari 20% sejak titik terendah pada Juni 2026.
Kondisi teknikal tersebut mengonfirmasi bahwa pasar telah memasuki fase bull market yang cukup solid.
Co-Founder Alphagate Capital, Henry Wibowo, menilai pergerakan pasar ke depan memiliki bias yang relatif positif selama tidak ada guncangan dari faktor eksternal.
“Untuk satu pekan ke depan, kami melihat pergerakan pasar masih berpotensi fluktuatif, tetapi dengan bias yang relatif positif selama tidak terjadi kejutan negatif dari faktor eksternal,” ucap Henry kepada awak media, Minggu (13/9/2026).
Henry memprediksi IHSG akan berada di rentang yang lebih sempit, yakni 6.400 hingga 6.600 untuk jangka waktu satu pekan ke depan.
Terkait prospek jangka panjang hingga akhir tahun 2026, Rully memperkirakan indeks berpeluang mencapai level 6.700 hingga 6.900.
Ia menekankan bahwa kenaikan tersebut tidak akan terjadi secara linear karena fundamental emiten harus mengejar valuasi yang telah naik tinggi.
Sementara itu, Henry lebih optimistis dengan memproyeksikan IHSG berpotensi menuju level 7.000 pada akhir tahun 2026.
Potensi penguatan tersebut didukung oleh rencana MSCI yang mungkin akan membuka kembali penambahan saham Indonesia ke dalam indeks pada kuartal I-2027.
Sentimen positif lainnya adalah rencana penghapusan batas harga minimum Rp 50 per saham di Bursa Efek Indonesia.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pembentukan harga dan likuiditas bagi saham-saham berkapitalisasi besar.




















