Jakarta – Ketidakpastian arah kebijakan moneter global yang dipicu oleh tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat terus memaksa para investor untuk meninjau ulang strategi alokasi portofolio mereka, baik di pasar saham maupun aset digital.
Kondisi ekonomi makro saat ini tengah dipengaruhi oleh langkah Federal Reserve yang menaikkan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%.
Keputusan yang diumumkan pada 16 September tersebut memicu tekanan jual di pasar ekuitas, di mana indeks Dow Jones sempat terkoreksi sekitar 600 poin.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kini menyentuh level 5%, angka tertinggi yang tercatat sejak tahun 2007.
Di tengah situasi pasar yang menantang tersebut, aset kripto justru menunjukkan perlawanan dengan mencatatkan penguatan.
Data pasar per 18 September 2026 pukul 17.20 WIB menunjukkan harga Bitcoin berada di level US$78.110,38, meningkat 2,31% dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Pada periode yang sama, Ethereum juga mencatatkan apresiasi sebesar 3,23% dan bertengger di posisi US$2.512,56.
Di pasar domestik, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan sekitar 6% secara year to date (YtD), bergerak dari Rp16.720 pada awal Januari menjadi Rp17.748 per dolar AS per hari ini, Jumat (18/9/2026).
Meski BI Rate berada di posisi 5,75% yang secara nominal lebih tinggi dari FFR, diversifikasi ke aset luar negeri tetap menjadi pilihan strategis bagi investor.
Langkah ini bertujuan untuk mengakses sektor industri yang belum tersedia di Bursa Efek Indonesia, sekaligus sebagai upaya lindung nilai terhadap mata uang.
Kombinasi antara kenaikan indeks S&P 500 sebesar 10,6% dan pelemahan rupiah memberikan total imbal hasil bagi investor mencapai sekitar 17%.
Analis Reku, Andri Fauzan, menyarankan pemodal untuk mencermati instrumen berbasis dolar AS seperti US Treasury, T-bills, atau bond ETF guna mengejar imbal hasil yang lebih stabil.
“Kalau lewat pasar saham AS, karakter yang perlu dicermati di rezim bunga tinggi adalah perusahaan dengan pricing power, arus kas kuat, dan utang rendah,” ungkap Andri, Jumat (18/9/2026).
Terkait pemilihan instrumen investasi, ia menilai bahwa ETF indeks broad-based adalah pilihan rasional bagi investor yang ingin menghindari risiko pemilihan saham secara individual (stock picking).
Investor kini dihadapkan pada dua opsi saluran transaksi, yakni melalui broker luar negeri yang menawarkan variasi produk luas atau melalui platform lokal yang mempermudah akses registrasi dan pengawasan regulasi domestik.
Terkait aset digital, Andri memproyeksikan Bitcoin masih memiliki potensi untuk mencapai target harga di kisaran US$110.000 hingga akhir tahun 2026.
Namun, ia juga mengingatkan adanya skenario koreksi ke level US$70.000–US$80.000 jika sikap bank sentral AS semakin hawkish.
Sementara itu, untuk Ethereum, proyeksi harga hingga akhir tahun 2026 diperkirakan akan bergerak dalam rentang US$3.000 hingga US$3.800 per koin.
Strategi dollar cost averaging atau akumulasi bertahap di level support menjadi pendekatan yang paling disarankan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Selain itu, investor diminta untuk membatasi penggunaan leverage demi meminimalkan risiko di tengah pengetatan moneter global yang masih membayangi.



















