Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (18/9/2026).
Hingga pukul 11.54 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp 17.743 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut mencatatkan apresiasi sebesar 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang bertengger di angka Rp 17.753 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan kawasan Asia yang cenderung bergerak variatif terhadap mata uang Paman Sam.
Mayoritas mata uang di Asia terpantau mengalami penguatan pada sesi perdagangan siang ini.
Ringgit Malaysia memimpin penguatan di kawasan dengan kenaikan sebesar 0,48%.
Dolar Taiwan menyusul dengan apresiasi sebesar 0,31%.
Rupee India juga mencatatkan penguatan sebesar 0,18%.
Selain itu, yuan China menguat 0,12%, peso Filipina naik 0,07%, sementara dolar Hong Kong dan baht Thailand masing-masing menguat tipis sebesar 0,01%.
Di sisi lain, terdapat sejumlah mata uang Asia yang justru tertekan terhadap dolar AS.
Yen Jepang tercatat melemah paling dalam dengan koreksi sebesar 0,70%.
Won Korea juga mengalami pelemahan sebesar 0,31%.
Sementara itu, dolar Singapura mencatatkan depresiasi tipis sebesar 0,008%.
Kondisi pasar valuta asing global saat ini dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar AS.
Data pasar menunjukkan indeks dolar, yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia, berada di level 100,22.
Angka ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya yang berada di level 100,24.
Di pasar domestik, pergerakan nilai tukar rupiah ini berbanding terbalik dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada sesi pertama perdagangan Jumat (18/9/2026), IHSG terpantau melemah sebesar 0,35% ke level 6.439.
Beberapa saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45 seperti BUMI, KLBF, dan INDF tercatat sebagai saham-saham dengan penurunan harga paling signifikan atau top losers.
Sentimen global terkait kebijakan moneter dan data ekonomi AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi fluktuasi mata uang di pasar regional maupun domestik.
Para pelaku pasar saat ini cenderung bersikap hati-hati dalam merespons data ekonomi terbaru yang dirilis oleh otoritas keuangan global.
Stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan tetap terjaga di tengah tekanan eksternal yang masih menyelimuti pasar keuangan dunia.
Bank Indonesia diperkirakan terus memantau perkembangan pasar untuk memastikan volatilitas mata uang tetap dalam koridor yang terkendali.
Kondisi ini menjadi cerminan dari bagaimana interaksi antara pasar saham dan pasar valuta asing di Indonesia merespons sentimen global yang terjadi pada akhir pekan ini.





















