Harga Emas Tertekan Jelang Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Rayhan Akhari

Harga Emas Tertekan Jelang Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Jakarta – Harga emas dunia kembali mengalami koreksi tajam pada perdagangan Selasa (22/9/2026) akibat sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin agresif.

Logam mulia tersebut tertekan seiring menguatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk durasi yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

Data pasar menunjukkan harga emas spot merosot 1,1% ke level US$ 4.295,62 per ons troi pada pukul 08.32 GMT.

Kondisi serupa dialami oleh harga emas berjangka AS yang melemah sebesar 1,2% menjadi US$ 4.332 per ons troi.

Analis pasar dari platform Nemo.money, Jamie Dutta, menegaskan bahwa pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan otoritas moneter AS secara langsung menghambat laju harga emas.

“Pengetatan kebijakan moneter menjadi hambatan bagi emas,” ujar Dutta dikutip dari Reuters.

Tekanan jual terhadap emas dipicu oleh pernyataan sejumlah pejabat tinggi The Fed yang mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lanjutan.

Gubernur The Fed, Kevin Warsh, secara terbuka menyatakan bahwa ruang untuk kenaikan bunga masih terbuka lebar dalam beberapa bulan ke depan.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, serta Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee.

Keduanya berpendapat bahwa kenaikan bunga diperlukan guna meredam inflasi yang masih persisten akibat tingginya permintaan domestik dan lonjakan harga energi.

Sentimen ini tercermin secara signifikan dalam data CME FedWatch Tool.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mendatang telah melonjak mencapai 92%.

Angka tersebut naik drastis dibandingkan posisi pekan lalu yang berada di kisaran 80%.

Emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, menjadi kurang menarik bagi investor ketika suku bunga aset berbasis dolar AS meningkat.

Selain faktor suku bunga, kenaikan harga minyak mentah global turut memperkeruh prospek inflasi yang sedang berusaha dikendalikan oleh The Fed.

Harga minyak kembali menguat setelah sempat mengalami penurunan selama empat sesi perdagangan berturut-turut.

Penguatan harga energi ini memicu kekhawatiran baru bahwa tekanan inflasi akan semakin sulit untuk dijinakkan dalam waktu dekat.

Di pasar valuta asing, penguatan dolar AS juga memberikan beban tambahan bagi harga emas.

Mata uang dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing lainnya, sehingga menekan minat beli.

Pasar saat ini juga tengah memantau perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Investor menaruh perhatian besar pada potensi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.

Koreksi harga emas ini turut menular ke logam mulia lainnya di pasar global.

Harga perak spot tercatat turun 2% menjadi US$ 64,68 per ons troi.

Platinum juga terkoreksi 1,5% menjadi US$ 1.770,19 per ons troi.

Sementara itu, harga palladium turun sebesar 1,4% menjadi US$ 1.283,40 per ons troi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar