Bitcoin Tembus US$ 87.000, Arus Dana Institusional Jadi Penopang Utama

Kholida Rahman

Bitcoin Tembus US$ 87.000, Arus Dana Institusional Jadi Penopang Utama

Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan performa impresif dengan menembus level psikologis US$ 87.000 pada awal pekan ini.

Lonjakan harga tersebut merefleksikan optimisme pasar yang kian meningkat di tengah aliran modal masif dari para pelaku pasar institusional.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Rabu (23/9/2026), aset kripto utama dunia ini sempat menyentuh angka US$ 87.200.

Pergerakan harga kemudian stabil berada di rentang US$ 85.000 hingga US$ 86.000 setelah melewati fase volatilitas tersebut.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyebutkan bahwa penguatan ini dipicu oleh akumulasi berbagai faktor fundamental yang saling mendukung.

“Minat investor institusional kembali menguat, sementara sentimen terhadap aset digital juga membaik,” ujar Aloysia sebagaimana dikutip dari Tribunnews, Selasa (22/9/2026).

Aliran dana masuk ke dalam instrumen Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat menjadi indikator utama penguatan.

Data dari SoSoValue mencatat total net inflow mencapai sekitar US$ 1,591 miliar dalam periode 17 hingga 21 September 2026.

Selain itu, aksi korporasi besar turut memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas jangka panjang Bitcoin.

Perusahaan Strategy dilaporkan telah menambah kepemilikan asetnya sebanyak 950 BTC dengan nilai transaksi mencapai US$ 75,7 juta.

Pembelian tersebut dilakukan dalam rentang waktu 14 hingga 20 September 2026.

Dengan tambahan tersebut, total aset Bitcoin yang dikuasai perusahaan kini mencapai sekitar 846.000 BTC.

Nilai total kepemilikan tersebut saat ini ditaksir mencapai angka fantastis sebesar US$ 63,8 miliar.

Di sisi lain, perkembangan regulasi di Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif bagi ekosistem aset digital secara luas.

Securities and Exchange Commission (SEC) baru saja menerbitkan kebijakan sementara terkait perdagangan saham yang ditokenisasi melalui teknologi blockchain.

Meskipun kebijakan tersebut tidak menyasar Bitcoin secara langsung, pasar melihatnya sebagai sinyal integrasi blockchain ke sistem keuangan tradisional.

Faktor makroekonomi global juga berperan dalam mendorong selera risiko investor terhadap aset-aset berisiko.

Penurunan harga minyak dunia diprediksi mampu meredam tekanan inflasi yang selama ini membayangi pasar keuangan global.

Kondisi tersebut secara tidak langsung memberikan ruang bernapas bagi Bitcoin untuk melanjutkan tren penguatannya.

Kendati momentum kenaikan terlihat kuat, para pelaku pasar tetap diminta untuk tetap waspada terhadap dinamika ekonomi global.

Kebijakan suku bunga bank sentral di masa mendatang menjadi variabel krusial yang dapat memengaruhi pergerakan harga kripto.

Aloysia menegaskan pentingnya bagi investor untuk tetap bersikap rasional dalam merespons fluktuasi harga yang terjadi di pasar.

“Investor sebaiknya tidak hanya melihat momentumnya, tetapi juga memahami konteks di balik pergerakan tersebut,” tambah dia.

Pihaknya juga menekankan agar investor menghindari pengambilan keputusan berdasarkan emosi atau Fear of Missing Out (FOMO).

Riset mandiri dan pemahaman mendalam mengenai fundamental aset dinilai menjadi kunci utama dalam mengelola risiko investasi kripto.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar