Jasa Marga Lepas SHL Rp 6,54 Triliun, Cek Rekomendasi Sahamnya

Kholida Rahman

Jasa Marga Lepas SHL Rp 6,54 Triliun, Cek Rekomendasi Sahamnya

Jakarta – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) resmi melakukan transaksi afiliasi berupa pemberian pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL) dengan nilai fantastis mencapai Rp 6,54 triliun.

Langkah korporasi ini melibatkan dua anak usaha perseroan, yakni PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) sebagai pemberi pinjaman dan PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC) sebagai penerima dana.

Berdasarkan data yang dirilis melalui prospektus di Bursa Efek Indonesia, kesepakatan transaksi tersebut telah dieksekusi pada 17 September 2026.

Struktur kepemilikan saham dalam transaksi ini menunjukkan adanya hubungan kendali yang kuat di bawah naungan induk usaha Jasa Marga.

JSMR diketahui memegang kendali atas 65% saham di JTT, sementara JTT sendiri memiliki 40% porsi kepemilikan saham di JJC.

Corporate Secretary and Chief Administration Officer JSMR, Trias Andriyanto, menjelaskan bahwa suntikan dana tersebut bertujuan untuk memperkuat struktur keuangan anak perusahaan.

“Transaksi tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan bridging refinancing JJC tahun 2026 serta untuk kebutuhan operasional lainnya,” ujar Trias dalam dokumen prospektus tersebut, Selasa (22/9/2026).

Pihak manajemen memastikan bahwa pemberian pinjaman ini telah melalui kajian analisis kewajaran yang mendalam.

Trias menegaskan, tingkat suku bunga yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman tersebut berada di kisaran suku bunga pasar yang berlaku saat ini.

Perseroan juga meyakini bahwa langkah strategis ini tidak akan memberikan dampak negatif terhadap kondisi laporan keuangan konsolidasi Jasa Marga.

“Selain itu, pertimbangan bisnis yang digunakan oleh JSMR terkait dengan transaksi ini adalah untuk keberlangsungan operasional JJC,” tambah Trias.

Di sisi lain, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai manuver ini lebih condong sebagai bentuk restrukturisasi pendanaan internal grup.

Menurut Elandry, transaksi ini secara otomatis mengubah komposisi aset lancar di neraca konsolidasi Jasa Marga.

Secara teknis, kas dan setara kas akan berkurang sebesar Rp 6,54 triliun, sementara pos piutang lain-lain akan mengalami peningkatan dengan nominal yang setara.

“Namun, dampaknya tidak langsung mengubah pendapatan maupun beban JSMR,” ujar Elandry, Selasa (22/9/2026).

Ia menyoroti bahwa manfaat utama dari kebijakan ini adalah terjaganya likuiditas dan kelancaran proses pembiayaan kembali atau refinancing bagi JJC.

Kendati demikian, Elandry mengingatkan adanya risiko yang menyertai, seperti berkurangnya fleksibilitas kas perusahaan secara keseluruhan.

Selain itu, terdapat potensi kenaikan eksposur pendanaan intra-grup yang perlu dimitigasi secara ketat oleh manajemen.

“Oleh karena itu, JSMR perlu menjaga kecukupan likuiditas, profil jatuh tempo utang, biaya bunga, serta memastikan kemampuan JJC membayar kembali pinjaman tersebut,” paparnya.

Melihat performa keuangan hingga semester I 2026, Jasa Marga mencatatkan pertumbuhan pendapatan tol sebesar 6,8% menjadi Rp 9,5 triliun.

Pada periode yang sama, laba bersih perusahaan mencapai Rp 1,9 triliun dengan pertumbuhan EBITDA sebesar 8%.

Dengan konsesi jalan tol sepanjang 1.736 kilometer, di mana 1.294 kilometer di antaranya telah beroperasi, ruang pertumbuhan bisnis dinilai masih cukup luas.

Namun, investor tetap diminta waspada terhadap beban liabilitas JSMR yang hingga Juni 2026 tercatat mencapai kisaran Rp 100 triliun.

“Sebab, hingga Juni 2026 liabilitas JSMR berada sekitar Rp 100 triliun,” tegas Elandry.

Menanggapi prospek ke depan, Elandry merekomendasikan strategi buy on weakness dengan target harga di rentang Rp 3.800 hingga Rp 4.000 per lembar saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar