New York – Bursa saham Amerika Serikat mengawali perdagangan Rabu (23/9/2026) dengan pergerakan negatif akibat tekanan dari sektor energi dan pasar obligasi.
Indeks utama Wall Street mencatatkan penurunan tipis di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Dow Jones Industrial Average terkoreksi sebesar 92,3 poin atau 0,18% ke posisi 51.771,41.
Indeks S&P 500 juga melemah 2,7 poin atau 0,03% menjadi 7.761,94.
Sementara itu, Nasdaq Composite mencatatkan penurunan sebesar 30,8 poin atau 0,11% ke level 27.213,519.
Sentimen negatif dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang melonjak lebih dari 1% setelah sempat mengalami tren penurunan selama lima hari berturut-turut.
Di saat yang sama, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun kembali menanjak.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa biaya pinjaman akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang.
“Pasar saat ini sedang dalam ketidakpastian… karena imbal hasil obligasi dan harga minyak sedang naik,” ujar Chief Investment Strategist CFRA Research, Sam Stovall, sebagaimana dikutip dari Reuters (24/9/2026).
Selain faktor ekonomi, perhatian investor tertuju pada dinamika geopolitik, khususnya perkembangan negosiasi terkait konflik di Timur Tengah.
Proses dialog antara pejabat AS dan Iran diketahui telah dimulai pada Selasa (22/9/2026) di sela-sela agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington turut menjadi fokus utama pasar.
Kedua pemimpin negara dijadwalkan membahas berbagai isu krusial, mulai dari perpanjangan gencatan dagang hingga regulasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Xi Jinping juga dijadwalkan melakukan diskusi dengan jajaran pimpinan perusahaan besar AS, termasuk Apple, Meta, Amazon, Tesla, dan General Motors.
Meskipun pasar saham secara umum tertekan, optimisme terhadap sektor teknologi AI tetap memberikan dukungan bagi indeks tertentu.
Nasdaq sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi intraday berkat respons positif pasar terhadap inovasi asisten AI Muse milik Meta.
Di sisi korporasi, saham jaringan restoran Cracker Barrel menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 6,8% pasca pelaporan penjualan kuartal IV yang melampaui ekspektasi.
Sementara itu, pelaku pasar kini menunggu rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) AS untuk bulan September yang dijadwalkan keluar hari ini.
Ekonom yang disurvei Reuters memproyeksikan aktivitas bisnis AS masih akan bertahan di zona ekspansi di atas level 50.
Selain data ekonomi, pernyataan Gubernur The Fed Michael Barr juga sangat dinanti untuk memberikan petunjuk kebijakan moneter selanjutnya.
Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, pasar saat ini mengestimasi peluang 50% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan depan.























