Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Simak Sentimen Pemicunya

Rayhan Akhari

Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Simak Sentimen Pemicunya

Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan melanjutkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026).

Potensi apresiasi mata uang Garuda ini diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.700 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Meski demikian, laju penguatan rupiah diprediksi akan berjalan terbatas dan cenderung tertahan pada fase konsolidasi.

Pasar saat ini tengah mencermati dinamika pergerakan dolar AS di pasar global serta mengantisipasi sentimen ekonomi makro terkini.

Pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026), rupiah di pasar spot berhasil menguat 0,37% ke level Rp 17.818 per dolar AS.

Kinerja positif tersebut juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang ditutup pada posisi Rp 17.803 per dolar AS, atau menguat 0,45% dari hari sebelumnya.

Analis mata uang sekaligus founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyebutkan bahwa penguatan rupiah saat ini didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang cukup kuat.

“Dalam jangka pendek, hasil RDG ini menjadi penahan volatilitas yang efektif (cushion), mencegah pelemahan berlanjut menembus level psikologis Rp18.000 dan memicu aksi technical rebound harian,” ungkap Wahyu sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya pada Rabu (23/9/2026).

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% menjadi jangkar utama stabilitas pasar.

Langkah otoritas moneter tersebut dinilai mampu menjaga daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Selain itu, komitmen Bank Indonesia untuk melakukan intervensi melalui kebijakan triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder memberikan kepercayaan tambahan bagi investor.

Dari sisi eksternal, pasar global sedang memberikan respons terhadap sinyal pelonggaran kebijakan moneter yang mulai diterapkan oleh sejumlah negara maju.

Situasi tersebut secara tidak langsung memicu aksi risk-on serta mendorong aliran modal masuk ke pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.

Namun, Wahyu mengingatkan bahwa kenaikan rupiah sebesar 0,50% secara intraday pada perdagangan sebelumnya sudah mencerminkan penyesuaian posisi atau pricing in dari pasar.

Keberlanjutan tren positif ini pada Kamis (24/9/2026) sangat bergantung pada ketahanan indeks dolar AS di pasar global.

“Penguatan lebih lanjut kemungkinan besar akan tertahan di sekitar area support teknikal USD/IDR sebelum pasar kembali bergerak menyamping (sideways),” tambah Wahyu.

Secara teknikal, pergerakan pasangan mata uang USD/IDR pada grafik harian maupun bulanan masih menunjukkan struktur higher low.

Kondisi ini mengonfirmasi bahwa meski rupiah menunjukkan pemulihan, tekanan dolar AS masih membayangi pasar.

Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan moneter global selanjutnya sambil memantau efektivitas langkah stabilisasi Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar